Memasuki bulan Ramadan, kebutuhan masyarakat cenderung meningkat, mulai dari konsumsi harian hingga pengeluaran sosial menjelang Lebaran. Jika tidak dikendalikan, lonjakan belanja dapat membuat pengeluaran membengkak dan menggerus tabungan.
Financial Planner Aidil Akbar menyebut, pada periode Ramadan terdapat kenaikan biaya hidup sekitar 20 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga pangan, serta bertambahnya pos pengeluaran yang bersifat sosial.
Menurut Aidil, salah satu pengeluaran yang kerap membesar adalah agenda buka bersama. Kegiatan ini dinilai sebagai ajang silaturahmi, namun dapat menjadi boros bila tidak diatur.
Selain itu, ada pos belanja Lebaran yang mencakup kebutuhan sosial seperti pakaian baru hingga kue-kue untuk menyambut hari raya. Aidil juga menyoroti biaya oleh-oleh Lebaran, termasuk pemberian uang kepada anak-anak atau keponakan. Ia menyarankan agar nominalnya disesuaikan dan tidak disamaratakan, sekaligus dapat menjadi momen untuk mengajarkan kebiasaan menabung.
Pengeluaran lain yang umum muncul adalah biaya mudik. Tradisi pulang kampung membuat banyak orang perlu menyiapkan dana khusus agar perjalanan dan kebutuhan selama Lebaran tetap terpenuhi.
Untuk menjaga keuangan tetap terkendali, Financial Planner Mike Rini menekankan pentingnya memisahkan anggaran rutin bulanan dan anggaran khusus Ramadan. Ia mengingatkan bahwa kesalahan yang sering terjadi adalah mencampur kedua sumber dana tersebut, padahal pengeluaran hari raya cenderung besar.
Mike menjelaskan, kebutuhan hari raya umumnya lebih sulit dipenuhi hanya dari gaji bulanan sehingga banyak orang mengandalkan dana Tunjangan Hari Raya (THR). Karena itu, ia menyarankan agar pengeluaran rutin tetap berjalan seperti biasa dari anggaran bulanan, sementara kebutuhan Ramadan dan Lebaran diatur dari pos tersendiri.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak tergoda berbelanja lebih dulu hanya karena merasa akan menerima THR. Kebiasaan menggunakan paylater untuk jajan atau buka bersama dengan asumsi akan dilunasi dari THR dinilai berisiko membuat pengeluaran tidak terkendali.
Selain itu, Mike merekomendasikan agar THR tidak dihabiskan seluruhnya. Meski THR memang dapat digunakan untuk kebutuhan hari raya, ia menilai akan lebih baik bila sebagian dana tetap disisihkan untuk tabungan.
Terkait mudik, Mike menyebut besar-kecilnya anggaran bergantung pada jarak perjalanan, lama tinggal, serta jumlah anggota keluarga yang ikut. Dengan perencanaan pos pengeluaran yang jelas, kebutuhan selama Ramadan hingga Lebaran diharapkan tetap terpenuhi tanpa membuat keuangan “boncos”.

