Aksi korporasi penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue terpantau ramai dilakukan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal 2026. Bagi pelaku pasar, tren ini kerap dibaca sebagai sinyal untuk mencermati arah strategi perusahaan, terutama terkait kebutuhan pendanaan, penguatan struktur modal, hingga langkah restrukturisasi.
Secara umum, rights issue memberi hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru pada harga yang telah ditentukan. Emiten menempuh langkah ini dengan pertimbangan finansial, baik untuk memperkuat kondisi keuangan maupun mendukung rencana pertumbuhan.
Berikut beberapa alasan yang kerap melatarbelakangi emiten menggelar rights issue:
1. Pelunasan utang (deleveraging)
Dana hasil rights issue sering digunakan untuk membayar kewajiban yang akan jatuh tempo. Tujuannya menekan beban bunga dan memperbaiki rasio utang. PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), misalnya, merencanakan rights issue untuk melunasi utang kepada pihak terafiliasi. Sementara PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) mengalokasikan dana untuk pelunasan obligasi yang jatuh tempo pada Juli 2026.
2. Ekspansi bisnis dan akuisisi aset
Penambahan modal juga dipakai untuk pertumbuhan, termasuk ekspansi anorganik. PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) disebut mengincar akuisisi aset properti, sedangkan PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) berencana mengakuisisi saham entitas lain untuk memperluas jangkauan pasar.
3. Memperkuat struktur permodalan
Dengan menambah ekuitas, emiten dapat memperbaiki rasio seperti Debt to Equity Ratio (DER). Struktur modal yang lebih sehat dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor dan kreditur terhadap keberlanjutan usaha.
4. Kebutuhan modal kerja dan likuiditas
Sebagian perusahaan memerlukan tambahan dana untuk mendukung operasional harian atau meningkatkan likuiditas. Salah satu contoh rencana penggunaan dana untuk fleksibilitas keuangan disebut pada PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI).
5. Alternatif pendanaan di tengah suku bunga tinggi
Ketika biaya pinjaman meningkat, rights issue menjadi opsi pendanaan yang dinilai lebih aman karena perusahaan tidak menanggung kewajiban pembayaran bunga tetap seperti pada pinjaman bank atau obligasi.
6. Restrukturisasi keuangan
Bagi emiten dengan tingkat leverage tinggi, rights issue dapat menjadi instrumen restrukturisasi agar kondisi keuangan kembali stabil dan mengurangi risiko gagal bayar.
Sejumlah emiten yang terpantau menyiapkan atau melaksanakan rights issue hingga Maret 2026 antara lain Folago Global Nusantara (IRSX), Sinergi Inti Andalan Prima (INET), Matahari Putra Prima (MPPA), Pelayaran Nasional Ekalya (ELPI), Graha Andrasentra (JGLE), Anabatic Technologies (ATIC), Saranacentral Bajatama (BAJA), serta Widodo Makmur Unggas (WMUU). Dalam ringkasan rencana yang beredar, tujuan penggunaan dana bervariasi, mulai dari ekspansi jaringan dan ekosistem digital, akuisisi aset, penambahan armada, hingga pelunasan dan restrukturisasi utang. Sejumlah aksi juga mencantumkan skema konversi utang.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai tren ini dipengaruhi kombinasi kebutuhan ekspansi dan tekanan likuiditas. Ia menyebut rights issue cenderung dinilai positif bila dana digunakan untuk ekspansi produktif atau akuisisi yang menguntungkan, bukan semata menutup kewajiban jangka pendek.
Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengingatkan investor untuk tetap selektif. Menurutnya, dalam jangka pendek harga saham dapat berfluktuasi akibat risiko dilusi, sementara dampak jangka panjang akan sangat ditentukan oleh kualitas penggunaan dana hasil rights issue.