Bank Indonesia (BI) menilai diplomasi ekonomi dan penguatan kerja sama internasional menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi makro di tengah risiko global yang kian kompleks. Strategi tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia sejauh ini tetap terjaga, antara lain karena kemampuan membaca arah risiko global dan menjaga stabilitas domestik. Ia mengibaratkan Indonesia sebagai “kapal besar” yang menghadapi “ombak” tekanan eksternal yang terus menghantam perekonomian global sepanjang 2025, namun tetap mampu bertahan.
Menurut BI, pertumbuhan ekonomi global pada 2025 diprakirakan melambat di tengah fragmentasi yang meluas. Ekonomi dunia diproyeksikan tumbuh 3,1% (year on year/yoy), lebih rendah dibanding 3,3% pada 2024. Sementara itu, inflasi dinilai stabil di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi masih bergejolak di Inggris, Jepang, dan China.
Di sisi lain, manufaktur dunia melemah akibat disrupsi perdagangan, sedangkan sektor jasa di beberapa kawasan masih bertahan. Kondisi tersebut turut menekan keyakinan konsumen global dan mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
Dalam situasi global yang sarat risiko itu, BI menegaskan kerja sama internasional menjadi instrumen strategis untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan ketahanan sistem keuangan. BI menyatakan terus memperkuat diplomasi ekonomi, berpartisipasi aktif dalam forum internasional, serta mengembangkan kebijakan yang adaptif untuk mendukung ketahanan ekonomi nasional di tengah divergensi ekonomi global.
Filianingsih juga menyampaikan bahwa meski prospek ekonomi global 2026–2027 masih tertekan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan tetap konsisten pada kisaran 4,7–5,5% dan diproyeksikan masih mampu meningkat pada 2026–2027. Ia menyebut resiliensi tersebut ditopang konsumsi yang solid, investasi yang membaik, serta ekspor yang tetap positif. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dinilai relatif terjaga, cadangan devisa tetap kuat, dan inflasi berada dalam sasaran.
Ia menambahkan, kondisi tersebut mencerminkan upaya BI dalam mencermati dinamika global, termasuk melalui pemantauan perkembangan ekonomi dunia dan kesiapan kebijakan agar perekonomian nasional tetap melaju di tengah ketidakpastian.
BI juga meluncurkan Laporan Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (PEKKI) 2025 yang memuat gambaran komprehensif mengenai ketidakpastian global, dampaknya terhadap pertumbuhan, inflasi, dan sektor keuangan, serta respons bauran kebijakan yang ditempuh BI, termasuk kebijakan internasional.
Menurut BI, laporan tersebut menjadi salah satu bentuk diseminasi strategis kepada para pemangku kepentingan terkait perkembangan terkini ekonomi global dan isu-isu utama yang dibahas dalam berbagai forum kerja sama internasional. PEKKI 2025 diluncurkan melalui seminar internasional yang membahas geoekonomi, geopolitik, serta strategi dan kerja sama internasional. Diskusi itu menyoroti bahwa setiap negara memiliki keunggulan yang dapat menjadi aset strategis dalam menghadapi dinamika global.
Bagi Indonesia, salah satu kekuatan yang disorot adalah kemampuan memanfaatkan kepercayaan negara lain untuk menjembatani perbedaan serta memperkuat diplomasi ekonomi guna mendukung kepentingan nasional.

