BERITA TERKINI
BI Pertahankan Suku Bunga 4,75%, Rupiah Menguat ke Rp16.930 per Dolar AS

BI Pertahankan Suku Bunga 4,75%, Rupiah Menguat ke Rp16.930 per Dolar AS

Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026), seiring keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup naik 0,09% ke level Rp16.930/US$. Penguatan ini memutus tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya. Sepanjang hari, pergerakan rupiah tercatat volatil di rentang Rp16.920 hingga Rp16.967 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB berada di zona merah dengan pelemahan tipis 0,02% ke level 98,621.

Penguatan rupiah terjadi setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global serta tekanan inflasi pada 2026-2027.

“Sebagai bentuk upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global dan inflasi 2026-2027,” tegas Perry seusai RDG BI, Rabu (21/1/2026).

Dengan keputusan ini, BI tercatat sudah empat kali berturut-turut mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% sejak September 2025. Meski demikian, Perry mengatakan BI tetap berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi dengan mendorong percepatan transmisi suku bunga acuan. Ia juga menilai ruang penurunan suku bunga ke depan masih terbuka.

Keputusan BI sejalan dengan konsensus dari 13 lembaga atau institusi yang seluruhnya memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga. Sejumlah ekonom menilai tekanan pada rupiah yang belum sepenuhnya mereda membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas. Penurunan suku bunga dinilai berisiko mengurangi daya tarik imbal hasil aset rupiah dan meningkatkan peluang arus modal keluar.

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menilai BI perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik untuk menopang stabilitas nilai tukar. “BI kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga di 4,75% karena perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik untuk mendukung stabilitas nilai tukar, sekaligus memastikan transmisi pelonggaran yang sudah dilakukan sepanjang 2025 tetap berjalan,” ujarnya.

Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut pasar telah mengunci ekspektasi suku bunga tetap di tengah tekanan rupiah. “Peluang terbesar Bank Indonesia masih menahan BI Rate di 4,75% karena tekanan nilai tukar rupiah belum mereda dan pasar juga sudah mengarah ke skenario suku bunga tetap,” kata Josua.