BERITA TERKINI
BI: Penurunan Outlook Moody’s Tak Cerminkan Pelemahan Fundamental Ekonomi Indonesia

BI: Penurunan Outlook Moody’s Tak Cerminkan Pelemahan Fundamental Ekonomi Indonesia

Bank Indonesia (BI) menegaskan penurunan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody’s tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi domestik. BI menilai stabilitas sistem keuangan (SSK) tetap berada dalam kondisi yang sangat baik dan robust.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudential BI, Alexander Lubis, mengatakan bahwa meski perekonomian global diliputi ketidakpastian dan mengalami penurunan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat. Pernyataan itu disampaikan dalam Editors Briefing di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat, 6 Februari 2026.

Menurut BI, penyesuaian outlook tersebut tidak menggambarkan kondisi SSK yang tetap solid. BI juga menyebut konsumsi rumah tangga dan investasi masih terjaga, sehingga perekonomian diperkirakan tetap tumbuh di atas 5 persen pada 2025. Kondisi ini dinilai menjadi modal untuk menghadapi volatilitas global.

Dari sisi sektor keuangan, BI menyatakan perbankan tetap memiliki ketahanan yang baik. Rasio permodalan perbankan atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 28 persen, sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) disebut masih berada pada level aman.

Memasuki 2026, BI menyatakan tetap mempertahankan stance pro growth sambil memantau perkembangan dan menyiapkan langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas perekonomian. BI juga menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dan harga, terutama jika terjadi pembalikan sentimen global yang dapat berdampak pada sektor keuangan dalam negeri.

Alexander menambahkan, BI akan bersikap data dependent dengan terus mengamati berbagai variabel ekonomi. Ia menyebut arah kebijakan saat ini masih sejalan dengan stance yang pro growth.

Sementara itu, dari sisi financial cycle, BI menilai kinerja kredit masih berada di bawah tingkat optimal. Karena itu, BI menyiapkan sejumlah kebijakan strategis untuk mendorong percepatan pertumbuhan kredit yang diharapkan berujung pada percepatan pertumbuhan ekonomi.

Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada 5 Februari 2026. Meski demikian, lembaga tersebut mempertahankan peringkat Indonesia pada level Baa2.