Jakarta – Bank Indonesia (BI) menilai Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) efektif mempercepat transmisi penurunan suku bunga perbankan, terutama pada suku bunga kredit atau pembiayaan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penguatan KLM yang berlaku mulai 16 Desember 2025 diarahkan untuk mendorong penurunan suku bunga kredit/pembiayaan perbankan lebih cepat. Skema ini, menurut Perry, dilakukan melalui peningkatan besaran insentif bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan BI.
“Melalui peningkatan besaran insentif bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG, Kamis, 22 Januari 2026.
Hingga minggu pertama Januari 2026, total insentif KLM tercatat mencapai Rp397,9 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada kelompok bank BUMN sebesar Rp182,9 triliun, bank swasta nasional (BUSN) Rp174,7 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp33,1 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,2 triliun.
Perry menyebut penyaluran insentif KLM diarahkan ke sektor-sektor prioritas, meliputi pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan KLM saat ini bekerja melalui dua jalur transmisi. Jalur pertama adalah lending channel yang terkait dengan kuantitas penyaluran kredit. Jalur kedua adalah penguatan interest channel atau jalur suku bunga, yang bertujuan mengakselerasi transmisi kebijakan moneter BI ke pasar keuangan dan perbankan, termasuk penurunan BI Rate.
“Untuk mengakselerasi bagaimana semua kebijakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia penurunan BI Rate sudah 150 basis point, terus dapat ditransmisikan baik kepada suku bunga di pasar keuangan maupun di perbankan,” ujar Aida.
BI mencatat suku bunga deposito tenor satu bulan turun 56 basis poin dari 4,81 persen pada awal 2025 menjadi 4,25 persen pada Desember 2025. Namun, BI menilai masih diperlukan upaya lanjutan untuk menurunkan pemberian special rate kepada deposan besar.
Seiring penurunan suku bunga dana tersebut, suku bunga kredit perbankan juga mulai menurun, turun 39 basis poin dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,81 persen pada Desember 2025.

