BERITA TERKINI
BI Intervensi Pasar NDF untuk Menahan Pelemahan Rupiah Mendekati Rp 17.000 per Dolar AS

BI Intervensi Pasar NDF untuk Menahan Pelemahan Rupiah Mendekati Rp 17.000 per Dolar AS

Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar offshore melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat. Langkah stabilisasi ini ditempuh untuk mencegah kepanikan yang dinilai tidak perlu di pasar keuangan.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengatakan pergerakan rupiah di pasar offshore berpengaruh terhadap pergerakan rupiah di pasar spot domestik. Karena itu, BI menilai intervensi diperlukan agar tekanan di offshore tidak merembet ke pasar dalam negeri.

“Pergerakan rupiah di pasar offshore itu mempengaruhi pergerakan rupiah di spot, di pasar domestik. Sehingga kalau tidak dilakukan intervensi tentunya akan berdampak di pasar spot. Jadi ini saling terkait,” ujar Juli dalam diskusi di Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Januari 2026.

Menurut dia, keterkaitan tersebut menjadi alasan BI melakukan intervensi baik di pasar keuangan domestik maupun di pasar offshore.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menambahkan pelemahan rupiah dari sekitar 16.700 menuju 17.000 per dolar AS terjadi terlalu cepat. Ia menyebut laju pelemahan yang cepat berpotensi membuat perekonomian tidak siap dan memicu spekulasi di pasar keuangan.

“Yang kami khawatirkan adalah ketika angkanya Rp 17 ribu itu tercapai atau pecah, itu menimbulkan spekulasi yang tidak perlu di pasar keuangan,” kata Ramdan. Karena itu, BI mengoptimalkan instrumen yang dimiliki untuk mencegah pelemahan berlanjut.

Ramdan juga membandingkan situasi saat ini dengan krisis moneter 1998, ketika rupiah melemah dari sekitar 2.500 menjadi 16.000 per dolar AS dalam waktu cepat. Menurut dia, pelemahan saat itu dipicu kepanikan yang menimbulkan efek berantai. “Itu kan karena panik yang tidak perlu, masyarakat panik sehingga menimbulkan efek snowball,” ujarnya.

Di pasar, rupiah sempat menyentuh level terendah 16.956 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 21 Januari 2025. Pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, rupiah tercatat menguat 0,24 persen ke level 16.956 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut terdapat sejumlah faktor domestik yang membuat rupiah semakin tertekan, salah satunya persepsi pasar. Ia mengatakan persepsi pasar terhadap proses pencalonan Deputi Gubernur BI turut menambah tekanan terhadap rupiah.

“Persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur, yang tadi kami tegaskan bahwa proses pencalonan sesuai undang-undang dan tentu saja tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia yang tetap profesional dan tata kelola yang kuat,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur pada Rabu, 21 Januari 2026.

Proses pencalonan Deputi Gubernur BI menjadi sorotan setelah keponakan Presiden Prabowo Subianto yang juga Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, masuk dalam bursa calon. Dua nama lain yang disebut adalah Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikayono dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M. Juhro.