Aktivitas dunia usaha di Indonesia melambat pada akhir 2025. Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja dunia usaha pada kuartal IV-2025 menurun dibandingkan kuartal sebelumnya, meski secara umum masih berada di zona positif.
Berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI, saldo bersih tertimbang (SBT) pada kuartal IV-2025 tercatat 10,61%. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal III-2025 sebesar 11,55% dan kuartal IV-2024 yang mencapai 12,46%.
BI menilai perlambatan tersebut mencerminkan tertahannya laju ekspansi, bukan pembalikan arah aktivitas ekonomi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan, meski melambat, mayoritas lapangan usaha masih membukukan kinerja positif.
Sejumlah sektor menjadi kontributor utama. Sektor jasa keuangan tercatat sebagai penyumbang terbesar dengan SBT 1,95%. Kinerja positif juga terlihat pada perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor (SBT 1,21%), industri pengolahan (1,18%), serta administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (1,02%).
Selain itu, sektor informasi dan komunikasi mencatat SBT 0,90%, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan minum berada di 0,77%. Menurut Denny, sejumlah sektor tersebut terdorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru, sejalan dengan naiknya permintaan domestik di akhir tahun.
Dari sisi produksi, BI mencatat tingkat kapasitas terpakai pada kuartal IV-2025 masih relatif terjaga di level 73,15%. Stabilnya utilisasi kapasitas terutama ditopang oleh sektor pengadaan listrik serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai perlambatan aktivitas dunia usaha lebih mencerminkan pelemahan laju pertumbuhan, bukan perubahan siklus ekonomi. Menurut dia, permintaan domestik tetap menjadi penopang, namun masih dihadapkan pada ketimpangan kinerja antar sektor serta gangguan dari sisi pasokan.
Ia menambahkan, tekanan terbesar datang dari sektor yang sensitif terhadap faktor musiman dan cuaca. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan melemah akibat pola masa tanam, curah hujan tinggi, serta banjir di sejumlah daerah. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian kembali terkontraksi karena aktivitas produksi terganggu oleh kondisi cuaca.
Ke depan, pelaku usaha diperkirakan tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi kapasitas. Selain kondisi keuangan yang disebut belum sepenuhnya pulih ke level tahun sebelumnya, hambatan investasi pada semester I-2026 dinilai masih cukup besar, terutama terkait perizinan, suku bunga, dan perpajakan.
Meski demikian, memasuki awal 2026, BI dan pelaku usaha melihat peluang perbaikan. Hasil survei menunjukkan kegiatan dunia usaha pada kuartal I-2026 diperkirakan meningkat, dengan SBT mencapai 12,93%. Penguatan terutama diproyeksikan terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan seiring masuknya musim panen.

