BERITA TERKINI
Bank Negara Malaysia Pertahankan Suku Bunga 2,75% di Tengah Prospek Ekonomi yang Tetap Kuat

Bank Negara Malaysia Pertahankan Suku Bunga 2,75% di Tengah Prospek Ekonomi yang Tetap Kuat

Bank Negara Malaysia (BNM) mempertahankan suku bunga acuannya di tengah perekonomian yang dinilai tetap tangguh meski menghadapi guncangan tarif. Pertumbuhan ekonomi tahun lalu dilaporkan melampaui proyeksi resmi, sementara inflasi masih terkendali.

Dalam keputusan kebijakan moneter pertamanya tahun ini, Kamis (22/1), BNM menahan overnight policy rate (OPR) di level 2,75%. Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi seluruh 22 ekonom yang disurvei Bloomberg. Dalam lima tahun terakhir, bank sentral disebut hanya sekali memangkas suku bunga dan menilai sikap kebijakan saat ini tepat serta mendukung perekonomian.

BNM menyampaikan momentum pertumbuhan diperkirakan berlanjut pada 2026, dengan dukungan permintaan domestik yang tetap kuat. Arus modal investor global juga terus masuk ke Malaysia, didorong stabilitas ekonomi dan fundamental yang solid.

Malaysia disebut mampu bertahan dari tarif sebesar 19% yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun penuh melampaui target pemerintah, ditopang oleh permintaan domestik yang kuat.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd. Mohd Afzanizam Abdul Rashid menilai keputusan BNM mencerminkan optimisme dan memperkirakan suku bunga acuan akan tetap tidak berubah sepanjang tahun ini. Ia menyebut tidak ada urgensi bagi BNM untuk menurunkan OPR karena prospek pertumbuhan ekonomi masih cukup baik.

Setelah pengumuman kebijakan, ringgit—yang disebut menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia dalam 12 bulan terakhir—bergerak stabil.

BNM menilai meski dampak tarif berpotensi menekan pertumbuhan global, prospek ekonomi Malaysia tetap tangguh. Faktor pendukungnya antara lain permintaan domestik yang berkelanjutan, inflasi yang semakin moderat, investasi teknologi yang kuat, serta kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif.

Namun, BNM juga mengingatkan adanya risiko penurunan, terutama dari kemungkinan kenaikan tarif lebih lanjut, eskalasi ketegangan geopolitik, dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Di sisi harga, inflasi tetap rendah setelah pemerintah membatalkan rencana untuk menghentikan subsidi bahan bakar bagi kelompok masyarakat terkaya. Untuk 2026, BNM memperkirakan inflasi umum tetap moderat seiring berlanjutnya penurunan tekanan biaya global. Inflasi inti pada 2026 diperkirakan stabil dan mendekati rata-rata jangka panjangnya, mencerminkan ekspansi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan serta tidak adanya tekanan permintaan yang berlebihan.

Keputusan menahan suku bunga dinilai memberi ruang bagi BNM untuk bertindak lebih tegas apabila kondisi memburuk tahun ini. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat ke kisaran 4–4,5% pada 2026, dari 4,9% pada 2025, di tengah meningkatnya volatilitas eksternal. Berkurangnya dampak front-loading serta potensi pemberlakuan tarif baru disebut dapat membebani kinerja ekspor.

Indeks Harga Konsumen (IHK) rata-rata tercatat 1,4% pada 2025, yang disebut sebagai level terendah dalam lima tahun terakhir. Pemerintah memperkirakan tekanan harga berada di kisaran 1,3–2% pada 2026.