Bursa saham Indonesia menutup perdagangan pekan keempat Januari 2026 dengan pelemahan. Pada Jumat (23/1), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,46% ke level 8.951, lebih rendah dibanding penutupan akhir pekan sebelumnya di 9.134. Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatat arus keluar (outflow) saham sebesar USD237 juta.
Dalam catatan mingguan PT Ashmore Asset Management Indonesia, pelemahan IHSG dipimpin sektor Transportasi & Logistik serta Industri yang masing-masing turun 6,99% dan 6,68%. Sementara itu, sektor Konsumer Non-Siklikal dan Bahan Baku menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan masing-masing 3,71% dan 1,48%.
Dari sisi aset, Ashmore mencatat emas menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan 6,90%, disusul harga gas alam yang naik 2,63%. Sebaliknya, Bitcoin terkoreksi 6,75% dan Indeks LQ45 turun 1,78%.
Di tingkat global, Ashmore menyoroti rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pertumbuhan kuartal III-2025 lebih kuat dari perkiraan, didorong belanja konsumen, ekspor yang lebih tinggi, serta peningkatan belanja pemerintah. Adapun inflasi inti PCE dan belanja konsumen November tercatat stagnan sesuai ekspektasi.
Di Kanada, inflasi tahunan utama naik melampaui perkiraan akibat efek basis rendah pada Desember 2024 terkait pemotongan pajak sementara. Namun, inflasi inti disebut sedikit melandai dan berada di bawah konsensus pasar.
Kawasan Eropa mencatat sentimen ekonomi menguat ke level tertinggi sejak Juli 2024, seiring pandangan yang lebih optimistis terhadap ekonomi dan inflasi. Kepercayaan konsumen juga membaik. Jerman menunjukkan tren serupa dengan sentimen ekonomi mencapai level tertinggi sejak Juli 2021, meski masih dibayangi ketidakpastian kebijakan dagang AS. Inggris mencatat tingkat pengangguran yang masih kaku disertai kenaikan inflasi tahunan utama.
Di Asia, Bank of Japan mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi, sementara inflasi tercatat lebih lambat dari perkiraan akibat kenaikan harga beras yang moderat. China mencatat pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun terakhir di tengah tekanan deflasi berkelanjutan dan pasar properti yang lesu. Ashmore juga menyebut keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga sejalan dengan konsensus.
Ashmore menggarisbawahi isu geopolitik sebagai penggerak utama pasar global dalam sepekan terakhir, terutama terkait Greenland dan Iran. Volatilitas pasar disebut dipicu pernyataan Presiden AS mengenai ancaman tarif tambahan serta usulan pembentukan Board of Peace yang disampaikan di Davos. Dampaknya terlihat pada volatilitas komoditas seperti minyak mentah dan emas, dengan harga emas yang terus mencetak rekor tertinggi.
Ashmore memperkirakan rapat bank sentral AS (The Fed) pekan depan akan mempertahankan suku bunga, dengan pasar memproyeksikan satu kali pemangkasan pada Juli.
Konflik di Timur Tengah juga kembali menjadi perhatian. Menjelang pengumuman Peace Board, sempat muncul kabar gencatan senjata di Gaza, namun konflik dinilai tetap berlanjut sehingga menjaga tingkat risiko dan volatilitas harga minyak. Peace Board diusulkan sebagai badan internasional untuk mengawasi transisi pasca perang di Gaza, dengan tujuan gencatan senjata permanen dan rekonstruksi skala besar.
Indonesia termasuk negara yang menyatakan minat untuk berpartisipasi, meski Ashmore menilai organisasi ini masih rapuh hingga ada kepastian dan dampak nyata. Kendati demikian, pasar disebut memandang inisiatif tersebut sebagai sinyal positif yang menurunkan harga minyak seiring persepsi risiko yang lebih rendah.
Di sisi lain, Ashmore mencatat pernyataan Presiden Trump mengenai ketertarikan terhadap Greenland dengan alasan kepentingan nasional AS. Langkah itu memicu penolakan dari sekutu Eropa dan kembali mengangkat ancaman tarif, kali ini sebagai alat geopolitik, bukan kebijakan perdagangan. Ketegangan kemudian mereda setelah diplomasi dengan NATO membahas kerangka kerja kawasan Arktik, sehingga ancaman tarif ditarik kembali. Istilah TACO (Trump Always Chickens Out) kembali mencuat dan disebut meningkatkan selera pasar pada aset berisiko.
Ashmore menilai inti isu Greenland berkaitan dengan keinginan AS mengamankan pasokan mineral tanah jarang strategis. Menurut Ashmore, ketegangan geopolitik global masih tinggi dan mendorong permintaan aset lindung nilai seperti emas, terutama di tengah menurunnya kepercayaan terhadap dolar AS.
Dari dalam negeri, Ashmore menilai fokus utama Bank Indonesia tetap pada stabilitas nilai tukar dan transmisi kebijakan suku bunga rendah. Bank Indonesia juga menilai risiko geopolitik meningkat dan memperkuat upaya menjaga rupiah. Pada penutupan pasar terakhir, rupiah menguat ke sekitar 16.820 dibanding titik terlemahnya di atas 16.980 pada pekan ini. Ashmore menambahkan konsensus pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun.
Ashmore mencatat koreksi pasar saham pekan ini terutama terjadi pada saham-saham komoditas, serta dipengaruhi spekulasi dan posisi defensif terkait potensi penyesuaian metodologi MSCI. Kejelasan terkait hal tersebut diharapkan muncul pada pekan berikutnya.
Dalam pandangan portofolio, Ashmore menilai masih terdapat peluang untuk menambah durasi obligasi di tengah koreksi imbal hasil jangka pendek. Sementara itu, saham dinilai tetap atraktif dalam portofolio dengan pengelolaan aktif untuk memanfaatkan peluang pada siklus saat ini.

