BERITA TERKINI
AS Paparkan Rencana Bangun "Gaza Baru" dengan Pencakar Langit, Pelabuhan, dan Bandara

AS Paparkan Rencana Bangun "Gaza Baru" dengan Pencakar Langit, Pelabuhan, dan Bandara

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana pembangunan kembali Jalur Gaza dari nol melalui proyek yang mereka sebut sebagai “Gaza Baru”. Berdasarkan salindia presentasi resmi, rencana itu mencakup pembangunan puluhan gedung pencakar langit yang membentang di sepanjang pantai serta area bekas permukiman di Rafah yang telah hancur.

Presentasi proyek tersebut disampaikan dalam seremoni penandatanganan “Dewan Perdamaian” yang digagas Presiden AS Donald Trump, di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (22/01). Peta yang ditampilkan juga memuat pengembangan kawasan perumahan, pertanian, dan industri baru secara bertahap, dengan target populasi sekitar 2,1 juta orang.

“Kami akan sangat sukses di Gaza. Ini akan menjadi hal yang luar biasa untuk disaksikan,” kata Trump. Ia juga menyinggung latar belakangnya di bidang properti dan menekankan nilai lokasi pesisir Gaza sebagai daya tarik utama pembangunan.

Rincian rencana dipaparkan menantu Trump, Jared Kushner. Dalam presentasinya, Kushner menyebut Gaza telah dijatuhi 90.000 ton amunisi, sehingga terdapat sekitar 60 juta ton puing yang perlu dibersihkan sebelum pembangunan dimulai. Ia mengatakan sempat ada pertimbangan untuk membagi wilayah menjadi zona berbeda, namun kemudian diputuskan untuk “merencanakan kesuksesan yang luar biasa”.

Kushner menegaskan Hamas akan menandatangani kesepakatan untuk demiliterisasi dan hal itu, menurutnya, akan ditegakkan. “Orang-orang bertanya kepada kami apa rencana B kami. Kami tidak memiliki rencana B,” ujarnya.

Dalam peta rencana induk, salah satu zona yang disiapkan adalah “wisata pantai” dengan rencana pembangunan 180 menara apartemen. Selain itu, terdapat zona untuk kawasan perumahan, kompleks pertanian dan industri, pusat data, manufaktur canggih, taman, serta fasilitas olahraga.

Rencana tersebut juga mencakup pembangunan pelabuhan laut dan bandara baru di dekat perbatasan Mesir. Dokumen itu menyebutkan adanya “penyeberangan trilateral” di titik pertemuan perbatasan Mesir dan Israel.

Rekonstruksi disebut akan berlangsung dalam empat fase, dimulai dari Rafah dan bergerak bertahap ke utara menuju Kota Gaza. Peta yang dipresentasikan juga menampilkan strip tanah kosong memanjang di sepanjang perbatasan Mesir dan Israel, yang tampaknya menandai “perimeter keamanan” dalam rencana perdamaian 20 poin Trump. Salah satu poinnya menyebut pasukan Israel akan tetap berada di sana “hingga Gaza benar-benar aman”.

Dalam bagian lain presentasi, AS menyebut “Rafah Baru” akan memiliki lebih dari 100.000 unit perumahan permanen, 200 pusat pendidikan, dan 75 fasilitas medis. Rafah sebelumnya merupakan kota paling selatan Gaza dengan populasi sekitar 280.000 jiwa, namun hancur setelah serangan Israel. Disebutkan pula pembongkaran terkendali dilakukan selama serangan berlangsung dan wilayah itu kini dikuasai Israel.

Kushner mengatakan ia yakin pembangunan “Rafah Baru” dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga tahun. Ia juga menyatakan pembersihan puing dan sebagian pembongkaran sudah dimulai, sebelum proyek “Gaza Baru” dilanjutkan.

Dalam beberapa minggu ke depan, kata Kushner, akan digelar konferensi di Washington untuk mengumumkan kontribusi negara-negara dan memaparkan “kesempatan investasi yang luar biasa” bagi sektor swasta.

Pada Februari 2025, pernyataan Trump memicu kemarahan di berbagai negara ketika ia mengusulkan agar warga Palestina di Gaza dipindahkan secara permanen ke negara-negara tetangga. Setelah itu, AS disebut mengambil alih wilayah tersebut untuk mengubahnya menjadi “Riviera Timur Tengah”.

Kushner juga menyatakan demiliterisasi Gaza “dimulai sekarang”, dengan alasan bahwa tanpa keamanan tidak akan ada investasi. Ia menyebut pemerintahan Palestina teknokratik baru di wilayah itu, Komite Nasional untuk Pemerintahan Gaza (NCAG), akan “bekerja sama dengan Hamas dalam demiliterisasi” untuk menerapkan prinsip-prinsip yang disepakati ke fase berikutnya.

Hamas sebelumnya menolak melucuti senjata tanpa pembentukan negara Palestina yang merdeka. Trump mengancam kelompok itu: “Mereka harus menyerahkan senjatanya, dan jika mereka tidak melakukannya, itu akan menjadi akhir bagi mereka.” Trump juga mendesak Hamas menyerahkan jenazah sandera Israel terakhir yang tewas di Gaza, yang menurut Israel seharusnya sudah diserahkan sebelum fase kedua rencana perdamaian dimulai pekan lalu.

Pada fase pertama, Hamas dan Israel sepakat melakukan gencatan senjata, pertukaran semua sandera Israel—baik yang masih hidup maupun yang tewas di Gaza—dengan warga Palestina yang ditahan di penjara Israel, penarikan sebagian pasukan Israel, serta peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Namun, kesepakatan gencatan senjata disebut rapuh. Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, sedikitnya 477 warga Palestina tewas dalam serangan Israel selama tiga bulan terakhir. Militer Israel mengatakan tiga tentaranya tewas dalam serangan oleh kelompok bersenjata Palestina.

Dalam serangan terbaru, lima orang dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di seluruh Gaza pada Kamis, dengan empat di antaranya dilaporkan tewas dalam serangan artileri di kawasan Zeitoun, timur Kota Gaza.

Kondisi kemanusiaan juga dilaporkan masih sangat parah. PBB menyebut hampir 1 juta orang kekurangan tempat tinggal yang memadai dan 1,6 juta orang menghadapi tingkat ketidakamanan pangan akut yang tinggi.

Hamas, dalam pernyataan pada Kamis (22/01), menyatakan tetap berkomitmen pada kesepakatan Oktober dan menuduh Israel berusaha “mengganggu upaya internasional yang bertujuan memperkuat gencatan senjata”.

Di Davos, Presiden Israel Isaac Herzog memuji “upaya Presiden Trump dan kepemimpinannya”, namun memperingatkan bahwa “ujian sesungguhnya adalah Hamas meninggalkan Gaza”. Sementara itu, Presiden Mahmoud Abbas dari Otoritas Palestina (PA) menyerukan implementasi penuh rencana perdamaian, termasuk penarikan pasukan Israel dan peran sentral PA dalam mengelola Gaza.

Ketua NCAG, Ali Shaath, mengumumkan penyeberangan perbatasan Rafah dengan Mesir akan dibuka dua arah pada minggu depan. Penyeberangan tersebut sebelumnya sebagian besar ditutup sejak Mei 2024, ketika sebagian wilayah Palestina disita pasukan Israel.