Jakarta — Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Fathan Subchi mendorong sektor ekonomi kreatif (ekraf) untuk mengambil peran lebih besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional, sejalan dengan target pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Fathan menilai kontribusi ekonomi kreatif selama ini sudah signifikan dan perlu diperkuat melalui kebijakan yang terintegrasi serta berkelanjutan. Mengacu pada Ekraf Annual Report 2025, sektor ekonomi kreatif tercatat menyumbang ekspor sebesar USD26,68 miliar. Dari sisi investasi, ekraf menghasilkan Rp132,04 triliun dan menyerap tenaga kerja hingga 27,4 juta orang.
“Ini yang saya kira sangat menarik, karena salah satu terobosan adalah bagaimana meningkat tenaga kerja sebanyak 27,4 juta, yang saat ini pengangguran tengah mengingkat,” ujar Fathan dalam diskusi inspiratif yang digelar Infobank Media Group di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan ekonomi kreatif memiliki daya tahan sekaligus potensi besar untuk menopang perekonomian nasional, terutama di tengah tantangan ketenagakerjaan.
Ke depan, Fathan menekankan perlunya strategi penguatan ekonomi kreatif melalui integrasi kebijakan, digitalisasi, insentif fiskal, serta kolaborasi lintas sektor. Ia menyoroti pentingnya digitalisasi, termasuk dalam pengelolaan situs budaya.
“Digitalisasi ini yang menarik karena kemarin kami merekomendasikan dalam pertemuan dengan Menteri Kebudayaan bahwa harus ada situs-situs yang mulai dirangkaikan dengan sistem,” katanya.
Fathan mencontohkan praktik sistem reservasi daring di museum-museum Prancis yang dinilainya dapat menjadi rujukan untuk diterapkan di Indonesia. “Saya kira digitalisasi sangat penting sehingga beberapa cagar budaya, dan situs bisa dikunjungi dengan baik,” ujarnya.
Selain digitalisasi, ia menilai insentif fiskal juga krusial untuk mendorong pengembangan ekonomi kreatif di daerah. Fathan menyinggung dukungan pemerintah pusat kepada daerah, seperti pemberian insentif Rp1 triliun kepada Pemerintah Provinsi Bali saat pandemi COVID-19.
“Ini menarik karena apa? Pariwisata dan kebudayaan menjadi salah satu penopang dari pertumbuhan ekonomi,” terangnya.
Terkait kolaborasi, Fathan mencatat adanya capaian positif dari Kementerian Kebudayaan melalui kerja sama dengan sektor swasta dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya. Ia menekankan pentingnya mendorong langkah tersebut.
“Ini yang saya kira harus kita dorong. Ada dua hal yang menjadi kesimpulan kita yaitu budaya sebagai pilar pembangunan nasional dan budaya sebagai penopang ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

