BERITA TERKINI
Analis Menilai Restrukturisasi lewat RUPO dan RUPSU Jadi Opsi Ideal bagi WIKA

Analis Menilai Restrukturisasi lewat RUPO dan RUPSU Jadi Opsi Ideal bagi WIKA

Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai restrukturisasi melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUPSU) menjadi opsi paling ideal bagi PT Wijaya Karya Persero Tbk (WIKA). Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi tambahan waktu bagi perusahaan untuk melakukan stabilisasi keuangan.

“Restrukturisasi bisa jadi 'runway' tambahan buat WIKA, bisa 2–3 tahun untuk stabilisasi. RUPO/RUPSU itu opsi preventif,” kata Wafi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Wafi menjelaskan, arus kas WIKA yang berbasis proyek semakin menipis seiring penundaan berbagai proyek dari pemerintah. Di sisi lain, kewajiban yang jatuh tempo masih besar, sementara penerimaan perusahaan dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan pembayaran.

Ia menilai, tanpa renegosiasi terkait tenor dan bunga, tekanan likuiditas berpotensi semakin berat dan dapat mengganggu stabilitas keuangan perusahaan. “RUPO/RUPSU relevan karena cash flow project-based makin tipis akibat penundaan proyek pemerintah, kewajiban jatuh tempo masih besar, sementara penerimaan nggak sebanding, tanpa renegosiasi tenor dan bunga, tekanan likuiditas bisa makin berat,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji. Ia menyoroti urgensi tercapainya kesepakatan restrukturisasi antara WIKA dan para kreditur. Menurutnya, tanpa kesepakatan, risiko hukum dapat meningkat dan berpotensi merugikan pihak-pihak yang terlibat.

“Kalau tidak disepakati, maka bisa membuka ruang bagi kreditur untuk melakukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) kepada WIKA,” tutur Nafan. Ia menilai restrukturisasi bukan hanya opsi, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan keuangan perseroan.

Sebagai catatan, setelah restrukturisasi Master Restructuring Agreement (MRA) pada Februari 2024, WIKA mencatat laba bersih sebesar Rp741,42 miliar untuk tahun 2024. Sejumlah indikator juga menunjukkan restrukturisasi sebelumnya memberikan ruang bagi perusahaan untuk menata ulang arus kas, mengelola kewajiban, dan memperbaiki stabilitas keuangan.

Namun memasuki 2025, WIKA disebut menghadapi tantangan baru akibat pemangkasan anggaran infrastruktur serta kenaikan beban bunga yang jatuh tempo pada September 2024 dan kembali meninggi pada September 2025.