Amazon dilaporkan bersiap melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) baru. Sumber internal menyebut pemangkasan karyawan bisa dimulai secepat pekan depan.
Rencana ini muncul beberapa bulan setelah perusahaan mengumumkan pemangkasan 14.000 karyawan. Sebelumnya, Amazon juga telah memberi sinyal bahwa PHK lanjutan masih mungkin terjadi pada 2026 sebagai bagian dari upaya perampingan operasional.
Pada Oktober lalu, laporan lain menyebut Amazon berencana memangkas hingga 30.000 posisi. Dengan demikian, gelombang terbaru ini berpotensi menyentuh sekitar 16.000 karyawan tambahan.
PHK diperkirakan terpusat pada posisi bergaji tinggi di kantor pusat. Tim employee experience dan teknologi di departemen sumber daya manusia (SDM) disebut-sebut menjadi kelompok pertama yang terdampak.
Restrukturisasi ini dikaitkan dengan percepatan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di internal perusahaan. Amazon disebut gencar mengotomatiskan proses rekrutmen, pemantauan kinerja, hingga sistem internal melalui AI, sehingga lapisan manajemen dan tim eksekutif besar menjadi sasaran awal efisiensi.
Tak hanya di kantor pusat, Amazon Web Services (AWS) yang selama ini menjadi mesin keuntungan utama perusahaan juga dilaporkan terdampak PHK. Hal ini dikaitkan dengan perlambatan pertumbuhan AWS dibanding para pesaing utamanya.
Amazon disebut berencana memangkas posisi pendukung tradisional di AWS, seperti administrasi, manajemen proyek, dan fungsi non-teknis. Dana hasil efisiensi tersebut akan dialihkan untuk pengembangan AI generatif skala besar serta pembangunan pusat data guna menopang strategi jangka panjang Amazon di era komputasi cerdas.

