Kunming — Sebanyak 1,5 ton alpukat segar yang diproduksi di Wilayah Otonom Etnis Dai-Lahu-Va Menglian, Kota Pu’er, Provinsi Yunnan, China barat daya, baru-baru ini dikirim ke Malaysia dan Thailand setelah lulus pemeriksaan bea cukai.
Pengiriman ini menandai ekspor perdana dari basis penanaman alpukat terbesar di China ke pasar ASEAN. Langkah tersebut juga disebut sebagai bagian penting dari proses internasionalisasi produk alpukat dalam negeri.
Untuk mendorong produk pertanian unggulan menembus pasar luar negeri, pemerintah daerah bersama instansi bea cukai membentuk mekanisme bantuan yang disebut “sinergi bea cukai dan daerah.” Melalui mekanisme ini, perusahaan memperoleh panduan dengan pendekatan “satu perusahaan, satu kebijakan,” mencakup pengurusan kualifikasi ekspor, pemenuhan standar karantina, hingga upaya meningkatkan efisiensi waktu proses kepabeanan.
Layanan pendampingan juga diperluas hingga ke lini produksi. Perusahaan dibantu menyempurnakan sistem ketelusuran kualitas, serta menyelesaikan registrasi dan pencatatan kebun dan pabrik pengemasan, yang dinilai membuka jalur penting dalam proses ekspor.
Kepala PT Teknologi Pertanian Tengyi Yunnan, Wei Yong, menyatakan perusahaannya mendapatkan pendampingan penuh sejak pengurusan kualifikasi ekspor hingga pelepasan barang di bea cukai, sehingga proses ekspor perdana dapat berjalan lebih lancar.
Ke depan, wilayah Menglian dilaporkan akan terus memperdalam koordinasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan bea cukai, sekaligus mengoptimalkan alur ekspor serta mendorong peningkatan rantai industri. Upaya tersebut ditujukan untuk membawa alpukat berkualitas tinggi asal Menglian ke pasar global, seraya mendukung revitalisasi pedesaan dan pengembangan perdagangan luar negeri yang berkualitas melalui ekspansi industri ke luar negeri.

