Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menghadiri Opening Remarks pada Opening Ceremony APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 di Jakarta. Dalam sambutannya, Airlangga menekankan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dibangun melalui kebijakan yang kuat dan kredibel yang dijalankan secara konsisten.
Airlangga memaparkan kinerja ekonomi Indonesia, dengan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 mencapai 5,39 persen (year on year/yoy) serta tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025. Menurutnya, capaian tersebut menempatkan Indonesia dalam jajaran ekonomi dengan kinerja terbaik di antara negara-negara APEC.
Ia juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi berdampak pada indikator kesejahteraan. Tingkat kemiskinan disebut menurun menjadi 8,5 persen dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,9 persen. Selain itu, rasio ketimpangan membaik dan Indeks Pembangunan Manusia meningkat. Airlangga menyebut capaian itu didukung bauran kebijakan yang terkoordinasi, penguatan koordinasi lintas sektor, serta komunikasi kebijakan yang konsisten.
Dalam konteks kerja sama kawasan, Airlangga menjelaskan agenda Reformasi Struktural APEC 2026–2030 akan difokuskan untuk mendorong persaingan usaha yang adil, memperbaiki iklim usaha, serta mempercepat inovasi dan digitalisasi, termasuk pemberdayaan pelaku ekonomi.
Ia menambahkan, melalui reformasi yang terkoordinasi dan keterlibatan para pemangku kepentingan, agenda tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan kemakmuran bersama. Upaya ini disebut sejalan dengan komitmen terhadap sistem perdagangan multilateral yang terbuka dan inklusif di bawah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Airlangga menilai sinergi yang lebih erat antara pemerintah dan kepemimpinan dunia usaha menjadi kunci untuk menghadapi kompleksitas tantangan dekade ini. Ia mendorong agar gagasan yang dibahas dalam pertemuan dapat diterjemahkan menjadi cetak biru serta hasil yang dapat ditindaklanjuti.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya transformasi struktural dan integrasi ekonomi kawasan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik yang inklusif di tengah dinamika global. Menurutnya, sinergi antara kebijakan publik dan peran dunia usaha krusial agar transformasi ekonomi berjalan efektif dan memberi manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Airlangga menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa lanskap ekonomi global menuntut lebih dari sekadar pemulihan, melainkan transformasi fundamental. Ia menggarisbawahi tema percepatan pertumbuhan inklusif regional melalui reformasi struktural, seraya menyatakan kekuatan kawasan terletak pada integrasinya.

