Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Penegasan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026, Selasa, 4 Februari 2026.
Airlangga menyampaikan, sepanjang 2025 pemerintah telah mengalokasikan stimulus ekonomi sebesar Rp101 triliun. Stimulus tersebut diarahkan untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan konsumsi domestik.
Memasuki kuartal pertama 2026, pemerintah menyiapkan paket stimulus lanjutan yang berfokus pada dukungan mobilitas masyarakat dan peningkatan konsumsi selama periode Lebaran 2026. “Pemberian stimulus ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di kuartal pertama 2026,” kata Airlangga.
Paket stimulus yang disiapkan antara lain potongan tarif transportasi publik. Diskon diberlakukan untuk layanan kereta api pada 14–29 Maret 2026, angkutan laut pada 11 Maret–5 April 2026, penyeberangan pada 11–31 Maret 2026, serta penerbangan pada 14–29 Maret 2026. Pemerintah juga memberikan diskon tarif tol untuk mendukung kelancaran arus mudik.
Kebijakan tersebut diperkuat dengan penerapan skema work from anywhere (WFA) bagi sektor publik maupun swasta, yang ditujukan untuk mengurangi kepadatan mobilitas pada periode tertentu.
Di bidang perlindungan sosial, pemerintah melanjutkan program bantuan pangan kepada masyarakat. Bantuan berupa beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter akan disalurkan kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama Februari hingga Maret 2026.
NEO 2026 mengusung tema “Enhancing National Resilience for Sustainable Growth”. Forum tahunan ini menjadi wadah diskusi strategis yang mempertemukan pembuat kebijakan, dunia usaha, akademisi, serta asosiasi industri untuk membahas arah dan tantangan ekonomi nasional ke depan.
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam forum tersebut, di antaranya mantan Menteri Keuangan RI yang kini menjabat Komisaris Utama MindID Fuad Bawazier, Anggota Dewan Ekonomi Nasional Septian Hario Seto, Staf Ahli Kemenko Pangan Suden Santoso, serta perwakilan akademisi dan pelaku industri dari berbagai sektor.

