Indonesia menegaskan strategi untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik sekaligus mengubah volatilitas global menjadi momentum percepatan pertumbuhan yang inklusif. Di tengah kondisi dunia yang tidak menentu, Indonesia juga menegaskan posisinya sebagai negara middle power yang konsisten menjaga prinsip non-blok, stabilitas kawasan, dan kerja sama multilateral.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026 bertema Turning Volatility into Velocity: Accelerating Inclusive Growth Through Reform di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Airlangga menyoroti pentingnya menyeimbangkan kekuatan sebagai negara non-blok. Ia juga menyampaikan perkembangan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA). “Sangat penting bagaimana menyeimbangkan kekuatan sebagai negara non-blok. Dan Indonesia, sekarang dapat saya umumkan bahwa sebagian besar CEPA telah diselesaikan. Dengan Kanada, dengan Uni Eropa, dengan Eurasia, dengan EREU,” ujarnya.
Airlangga menjelaskan, kinerja perekonomian Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tren yang konstruktif. Indeks PMI Manufaktur tercatat berada pada fase ekspansi di level 52,6 pada Januari 2026 dan telah bertahan dalam zona ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Kepercayaan konsumen disebut tetap terjaga, sementara inflasi berada pada level yang terkendali.
Ketahanan ekonomi, menurut dia, turut ditopang sektor eksternal yang solid. Surplus neraca perdagangan disebut telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut, sementara cadangan devisa berada di atas USD142 miliar.
Di pasar keuangan, pemerintah melanjutkan agenda reformasi pasar modal yang berfokus pada empat pilar utama, yakni likuiditas, transparansi, tata kelola dan penegakan hukum, serta pendalaman pasar. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kepercayaan investor dan stabilitas pasar.
Airlangga juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi telah berdampak pada indikator kesejahteraan. Tingkat kemiskinan disebut terus menurun ke level satu digit, tingkat pengangguran tercatat 4,9%, rasio gini berada pada level 0,375 dengan tren menurun, serta Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 75,9. Ia menyebut capaian tersebut merupakan hasil dari bauran kebijakan yang kuat dan sinergi lintas sektor yang berjalan efektif.
Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Sektor jasa, industri manufaktur bernilai tambah tinggi, dan penguatan rantai nilai industri diproyeksikan menjadi penggerak utama.
Dalam jangka pendek, pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga daya beli dan momentum konsumsi domestik. “Kami telah menyiapkan Rp12,83 triliun untuk mendukung daya beli dan mobilitas,” kata Airlangga.
Ia menjelaskan stimulus itu akan disalurkan secara terarah dan bersifat sementara, antara lain melalui diskon transportasi selama periode Idulfitri, dukungan mobilitas masyarakat, serta penguatan konsumsi rumah tangga. Kebijakan tersebut diharapkan menjaga ketahanan permintaan domestik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional pada awal 2026.
Menutup pernyataannya, Airlangga menegaskan konsistensi reformasi, stabilitas kebijakan, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan akan tetap menjadi fondasi utama untuk menghadapi tantangan ekonomi global dan mendorong pertumbuhan yang semakin inklusif.

