BERITA TERKINI
AHY: Greenland Muncul sebagai Titik Panas Baru Perebutan Mineral Kritis dan Jalur Arktik

AHY: Greenland Muncul sebagai Titik Panas Baru Perebutan Mineral Kritis dan Jalur Arktik

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Greenland menjadi contoh perubahan pola persaingan global yang kini tidak lagi bertumpu semata pada kekuatan militer, melainkan pada penguasaan sumber daya strategis dan kepentingan geopolitik.

Dalam forum Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026, AHY mengatakan Greenland masuk dalam radar negara-negara besar dunia. Menurutnya, daya tarik kawasan tersebut terletak pada cadangan mineral kritis dan rare earth yang dibutuhkan untuk menopang perkembangan teknologi masa depan, mulai dari energi terbarukan hingga sektor pertahanan.

“Kenapa Greenland tiba-tiba menjadi sangat strategis? Karena di sanalah tersimpan sumber daya mineral penting yang akan menentukan arah teknologi dan kekuatan ekonomi global,” kata AHY.

Selain faktor sumber daya, AHY menyoroti posisi Greenland di kawasan Arktik. Ia menyebut dampak perubahan iklim membuka akses jalur pelayaran baru di wilayah utara, sehingga Arktik semakin diperebutkan sebagai koridor perdagangan dan logistik global.

AHY menilai situasi tersebut mencerminkan pergeseran karakter geopolitik dunia yang kian kompleks. Dominasi wilayah, menurutnya, tidak selalu dilakukan lewat konflik bersenjata, tetapi juga melalui instrumen tekanan politik, ekonomi, serta pengaruh strategis atas sumber daya alam.

Ia mengingatkan, meningkatnya ketegangan di wilayah seperti Greenland berpotensi mengubah tatanan global yang selama ini dikenal. Ketika aturan internasional mulai diabaikan demi kepentingan strategis, dunia dinilai berisiko memasuki fase new world order yang lebih rentan terhadap instabilitas.

“Ini menjadi alarm bagi semua negara, termasuk Indonesia, bahwa kekuatan hari ini ditentukan oleh siapa yang menguasai sumber daya strategis dan jalur ekonomi penting,” ujar AHY.

Meski Indonesia berada jauh dari kawasan Arktik, AHY menegaskan dampak geopolitik global tetap dapat dirasakan. Ia menyebut ketegangan di wilayah strategis dunia berpotensi memicu gangguan rantai pasok, fluktuasi harga energi, hingga tekanan terhadap stabilitas ekonomi global yang berujung pada dampak domestik.

Karena itu, AHY menekankan pentingnya penguatan ketahanan nasional dan kemandirian di sektor-sektor strategis. Negara yang tidak siap menghadapi dinamika geopolitik global, menurutnya, berpotensi berada pada posisi yang dirugikan.

“Dunia semakin keras. Negara yang kuat akan menentukan arah, sementara yang lemah hanya bisa menerima akibatnya,” tegas AHY.

Menutup pernyataannya, AHY menekankan pembangunan nasional—termasuk infrastruktur, energi, dan penguasaan teknologi—perlu diposisikan sebagai strategi jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam persaingan global yang semakin tajam.