Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) memperkuat kepercayaan publik terhadap industri teknologi finansial (fintech) melalui kampanye nasional #FintechAmanTerpercaya dalam momentum Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025. Rangkaian kegiatan BFN 2025 dijadwalkan berlangsung selama sebulan ke depan.
Ketua Umum Aftech Pandu Sjahrir menegaskan bahwa kepercayaan menjadi fondasi utama bagi industri fintech. Menurut dia, Aftech berkomitmen mendorong layanan keuangan digital yang tumbuh karena dipercaya, bukan semata karena popularitas.
“Dipercaya itu, menurut saya, segala-galanya. Substance harus jelas. Tanpa kepercayaan, fintech itu tidak berarti. Dengan kepercayaan, fintech itu akan menjadi kekuatan bangsa. Our only currency is trust. Dan inilah tugas kita bagaimana menggerakkan trust,” kata Pandu saat membuka BFN 2025 di Jakarta, Selasa.
Sejalan dengan amanat Bali Fintech Agenda 2018, Pandu menyampaikan fintech perlu memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama untuk memperluas inklusi keuangan. Ia juga mengajak pelaku industri fintech berpartisipasi dan mendukung program-program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Banyak program pemerintah dilakukan. Ini kesempatan buat semua teman-teman yang ada di sini untuk bisa ikut berkreasi dan menambah nilai, baik itu dari makan bergizi gratis (MBG), koperasi, maupun program-program lain. Keinginan pemerintah sekarang itu ke depan focus to growth,” ujarnya.
Pandu menilai industri fintech nasional tumbuh semakin baik dan ditopang peningkatan fundamental. Ia menyebut fintech Indonesia memasuki fase “kedewasaan” yang perlu semakin ditangguhkan.
Ia menambahkan, arah besar BFN 2025 melanjutkan semangat FEKDI dan IFSE 2025 serta sejalan dengan visi Astacita pemerintah, dengan tujuan memastikan inovasi fintech memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. “Ini (BFN) merupakan peran eksekusi (dari sisi pelaku industri), agar inovasi itu bisa dirasakan secara riil,” kata Pandu.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Aftech Arsjad Rasjid menyampaikan BFN 2025 menjadi contoh konkret konsep Indonesia Incorporated sesuai arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Menurutnya, pembangunan ekonomi yang kuat memerlukan kolaborasi regulator, inovator, dan pelaku usaha dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
“Jadi untuk itu harapan kita bahwa fintech ini akan memunculkan kepercayaan publik, memperkuat tata kelola, dan memastikan inovasi fintech tumbuh dengan bertanggung jawab dan berkeadilan,” kata Arsjad.
Arsjad juga mengungkapkan Aftech bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bappenas mengembangkan platform kolaboratif bernama Digital × Real Sector Launchpad. Melalui platform tersebut, pelaku fintech dan sektor riil dipertemukan untuk menciptakan solusi pembiayaan produktif, asuransi, serta perencanaan keuangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
BFN 2025 menghadirkan beragam program insentif atau promosi dari berbagai perusahaan fintech sepanjang periode 11 November hingga 12 Desember 2025. Selain itu, kegiatan turut digelar di kampus, komunitas, media, dan ruang publik melalui program edukasi dan literasi, seminar, business matching, investor meet-up, hingga virtual job fair.
Puncak rangkaian kegiatan akan berlangsung melalui konferensi dan expo dalam BFN Fest pada 10–11 Desember 2025 di The Kasablanka Hall, Jakarta. Dalam BFN 2025, Aftech menargetkan 10 juta penerima manfaat, menghadirkan lebih dari 240 pembicara, serta melibatkan lebih dari 100 perusahaan fintech dari berbagai subsektor.

