BERITA TERKINI
AFTECH dan PERBANAS Dorong Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional

AFTECH dan PERBANAS Dorong Sinergi Bank-Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional

Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi antara perbankan dan fintech guna memperluas akses kredit nasional. Kolaborasi dinilai penting di tengah rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang disebut relatif stagnan di kisaran 30% selama satu dekade terakhir.

AFTECH menilai kerja sama yang lebih terarah antara bank dan fintech dapat membantu menjawab kebutuhan pembiayaan, termasuk kesenjangan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang diperkirakan mencapai sekitar 234 miliar dolar AS.

Komitmen tersebut dibahas dalam forum diskusi AFTECH dan PERBANAS di Jakarta, Rabu (12/11/2025). Sekretaris Jenderal PERBANAS Anika Faisal, yang juga Komisaris Bank Jago, mengatakan peningkatan rasio kredit nasional hanya dapat dicapai melalui penguatan fungsi intermediasi serta kolaborasi di antara pelaku industri jasa keuangan.

Anika menekankan, sinergi perbankan dan fintech diperlukan untuk memperluas jangkauan kredit, terutama ke luar Jawa dan ke sektor-sektor prioritas yang selama ini belum sepenuhnya terlayani. Menurutnya, kombinasi jaringan luas serta kemampuan manajemen risiko perbankan dengan inovasi teknologi fintech dapat membuat perluasan akses kredit berjalan lebih mudah, cepat, dan adaptif.

Ia juga menilai simbiosis kedua sektor mampu meningkatkan jangkauan layanan sekaligus memperluas pilihan produk kredit bagi berbagai segmen masyarakat. Namun, Anika mengingatkan kolaborasi perlu diimbangi regulasi perlindungan konsumen yang kuat serta penegakan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan inovasi yang bertanggung jawab. Melalui forum tersebut, bank dan fintech diharapkan dapat menyelaraskan pandangan serta memperkuat standar tata kelola dan manajemen risiko sebagai dasar kerja sama berkelanjutan.

Dari sisi AFTECH, Ketua Departemen Perbankan AFTECH Dedy Sahat, yang juga menjabat EVP–Head of Digital Economy CIMB Niaga, menyatakan ruang untuk memperluas akses kredit di Indonesia masih sangat besar. Ia merujuk survei AFTECH bersama Mandala Consulting yang menunjukkan masih terdapat 4,5% populasi yang unbanked atau tidak memiliki akun bank, serta 36% yang underbanked atau tidak memiliki akses kredit.

Menurut Dedy, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski adopsi teknologi meningkat, inklusi kredit masih menghadapi tantangan struktural. Ia menilai persoalan ini tidak bisa dijawab dengan satu solusi. Perbankan tetap memegang peran penting, sementara sektor digital—termasuk platform pinjaman daring (pindar)—tumbuh cepat sebagai salah satu jalur pemberian akses kredit. Dedy berharap forum ini menjadi wadah bagi bank dan pelaku fintech untuk menemukan peluang kolaborasi lebih lanjut sekaligus mendorong inovasi inklusi keuangan.

Forum diskusi ini juga disebut sebagai bagian dari rangkaian Bulan Fintech Nasional (BFN) dan dimaknai sebagai upaya bersama memperkuat kepercayaan, menyelaraskan perspektif, serta mendorong inovasi yang lebih inklusif. Deputi Komisioner Pengawas Bank Swasta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indarto Budiwitono yang hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan dukungan dan berharap forum dapat memberi masukan konstruktif bagi perkembangan industri fintech.

Sementara itu, Ketua Departemen P2P Lending AFTECH Nucky Poedjiardjo, yang juga Direktur Utama Easycash, menilai kemitraan antara perbankan dan platform pindar terus berkembang signifikan dan menjadi fondasi penting dalam perluasan akses kredit nasional. Ia menyebut meningkatnya kebutuhan kredit masyarakat, ditambah kemampuan pindar menjangkau segmen yang belum terlayani bank dengan proses lebih cepat dan efisien, mendorong kerja sama kedua sektor menguat.

Nucky merujuk catatan OJK per Juli 2025 yang menunjukkan outstanding pendanaan dari lender perbankan meningkat 40,09% secara tahunan (yoy) menjadi Rp54,10 triliun, atau sekitar 63,9% dari total pendanaan industri. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan bank terhadap pindar, terutama platform yang memiliki tata kelola serta riwayat kepatuhan yang baik.

Namun, Nucky menambahkan keberlanjutan kolaborasi memerlukan keselarasan kebutuhan dan ekspektasi kedua pihak. Tantangan yang muncul bukan hanya memperluas pendanaan, melainkan juga bagaimana bank yang ingin mendiversifikasi portofolio dapat menemukan platform dengan rekam jejak kepatuhan kuat, serta bagaimana pindar membangun kemitraan jangka panjang dengan lender institusional.

Ia menyebut aspek tata kelola (governance) dan reputasi industri menjadi risiko utama dalam kerja sama bank dengan pindar. Nucky menyatakan Easycash berkomitmen menjaga standar tata kelola tinggi, memastikan integritas operasional, serta transparansi untuk membangun kepercayaan perbankan dan mendorong kolaborasi yang berkelanjutan.