BERITA TERKINI
10 Akuisisi Terbesar Dunia yang Membentuk Ulang Peta Korporasi Global

10 Akuisisi Terbesar Dunia yang Membentuk Ulang Peta Korporasi Global

Akuisisi perusahaan kerap menjadi cermin kekuatan modal sekaligus strategi merebut pangsa pasar. Dalam banyak kasus, logika “ikan besar memakan ikan kecil” benar-benar terjadi ketika perusahaan raksasa menggelontorkan dana tunai atau saham untuk mengambil alih kendali penuh atas perusahaan lain.

Meski beberapa tahun terakhir perhatian publik banyak tertuju pada sektor teknologi, catatan historis menunjukkan transaksi bernilai terbesar justru banyak terjadi di telekomunikasi dan farmasi, terutama pada awal 2000-an. Jika disesuaikan dengan inflasi hingga 2025, transaksi-transaksi periode tersebut masih mendominasi daftar akuisisi murni terbesar dalam sejarah.

Berikut 10 akuisisi terbesar yang tercatat, beserta konteks strategis di baliknya.

1. Vodafone mengakuisisi Mannesmann
Pada 2000, Vodafone (Inggris) melakukan hostile takeover terhadap Mannesmann (Jerman). Manajemen Mannesmann sempat menolak, namun akhirnya menerima setelah pemegang saham menyetujui penawaran yang sangat tinggi. Jika dikonversi ke rupiah saat ini, nilainya disebut menembus sekitar Rp 5.727 triliun (kurs Rp 16.600).

2. Verizon membeli porsi Vodafone di Verizon Wireless
Verizon Wireless sebelumnya merupakan joint venture antara Verizon Communications (AS) dan Vodafone (Inggris). Pada 2014, Verizon membeli 45% saham milik Vodafone. Langkah ini membuat Verizon menguasai 100% arus kas dari bisnis nirkabelnya di Amerika Serikat tanpa perlu membagi dividen dengan mitra asing.

3. Pfizer mengakuisisi Warner-Lambert demi Lipitor
Pfizer mengambil alih Warner-Lambert dengan motivasi utama mengamankan Lipitor, obat penurun kolesterol yang disebut sebagai yang terlaris di dunia. Warner-Lambert kala itu berencana merger dengan pihak lain, yang dinilai mengancam posisi Pfizer. Pfizer kemudian mengajukan penawaran agresif dan berhasil mengakuisisi perusahaan tersebut.

4. AB InBev mengambil alih SABMiller
Anheuser-Busch InBev, produsen Budweiser, mengakuisisi SABMiller dalam ekspansi besar-besaran. Transaksi ini membentuk entitas yang menguasai hampir sepertiga pasokan bir dunia, sekaligus memperkuat akses ke pasar berkembang di Afrika dan Amerika Latin.

5. AT&T mengakuisisi BellSouth
Pada 2006, AT&T membeli BellSouth dalam upaya konsolidasi jaringan. Akuisisi ini diposisikan sebagai langkah menyatukan kembali pecahan perusahaan telekomunikasi lama (Baby Bells) di Amerika Serikat, sekaligus memperkuat infrastruktur kabel dan nirkabel secara nasional.

6. Comcast membeli AT&T Broadband
Pada 2001, Comcast mengakuisisi divisi kabel milik AT&T (AT&T Broadband). Kesepakatan ini mendorong Comcast menjadi penyedia televisi kabel dan internet terbesar di Amerika Serikat, posisi yang disebut masih dipertahankan hingga kini.

7. AT&T mengakuisisi Time Warner
AT&T membeli Time Warner—pemilik HBO, CNN, dan Warner Bros—untuk menjalankan strategi integrasi vertikal, yakni menggabungkan jalur distribusi telekomunikasi dengan kepemilikan konten premium. Meski aset tersebut kemudian dilepas kembali melalui spin-off, nilai transaksinya tetap tercatat sebagai salah satu yang terbesar.

8. Actavis mengakuisisi Allergan dan mengadopsi namanya
Actavis membeli Allergan, produsen Botox, lewat kesepakatan tunai dan saham. Setelah akuisisi, Actavis justru mengganti nama induk menjadi Allergan plc, karena nama Allergan dinilai memiliki nilai merek dan reputasi yang lebih kuat di pasar global.

9. Bristol-Myers Squibb mengakuisisi Celgene
Bristol-Myers Squibb (BMS) mengambil alih Celgene untuk memperkuat portofolio obat kanker. Fokus utama pembelian ini adalah mengamankan hak atas Revlimid, obat kanker darah yang disebut sebagai salah satu produk farmasi dengan margin keuntungan tertinggi.

10. Disney memborong aset hiburan Fox
Disney tidak membeli Fox Corporation secara utuh, melainkan mengakuisisi aset hiburan strategis. Pembelian ini mencakup studio film 20th Century Fox dan hak kekayaan intelektual seperti X-Men, Avatar, serta National Geographic. Aset tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam penguatan konten Disney+.

Sorotan terbaru: spekulasi Netflix dan Warner Bros. Discovery
Di luar daftar transaksi historis itu, pasar kini memantau dinamika konsolidasi media, termasuk rumor potensi Netflix mengakuisisi Warner Bros. Discovery (WBD), pemilik kekayaan intelektual seperti Harry Potter, DC Comics, dan HBO. Spekulasi ini menguat seiring valuasi saham WBD yang sempat tertekan pasca-merger, sehingga dinilai bisa menjadi target menarik bagi perusahaan dengan likuiditas besar seperti Netflix.

Sejumlah analis memandang skenario tersebut sebagai langkah strategis yang masuk akal karena Netflix memiliki teknologi dan distribusi global yang kuat, namun masih bergantung pada lisensi pihak ketiga untuk sebagian konten ikonik. Kepemilikan penuh atas katalog Warner Bros dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan itu dan memperkuat posisi Netflix di pasar streaming.

Namun, manajemen Netflix sejauh ini bersikap konservatif. Co-CEO Ted Sarandos berulang kali menyatakan strategi perusahaan adalah “membangun, bukan membeli” (build, not buy), yang mengindikasikan keengganan mengambil alih aset media tradisional dengan beban infrastruktur kabel TV yang tengah menyusut. Meski begitu, investor tetap memantau kemungkinan perubahan arah, mengingat konsolidasi industri media terus berlangsung.