Nilai tukar yen terhadap dolar AS berfluktuasi tajam setelah Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Ueda Kazuo menyampaikan pernyataannya dalam konferensi pers usai pertemuan kebijakan moneter. Yen sempat melemah hingga menyentuh 159 yen per dolar AS, sebelum berbalik menguat dalam waktu sekitar 10 menit. Pergerakan mendadak ini memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang dan BoJ mungkin melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan depresiasi yen.
Dalam konferensi pers tersebut, Ueda tidak menunjukkan sikap yang dinilai positif terhadap peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Kondisi itu mendorong ekspektasi bahwa selisih suku bunga Jepang dan Amerika Serikat tidak akan menyempit sebesar yang sebelumnya diharapkan, sehingga tekanan jual terhadap yen meningkat.
Sekitar pukul 16.30 pada 23 Januari waktu setempat, sesaat setelah konferensi pers berakhir, kurs yen melemah dari sekitar 158,6 yen per dolar AS pada awal sesi konferensi menjadi 159 yen per dolar AS. Namun, suasana pasar berubah tiba-tiba setelah pukul 16.40, ketika yen melonjak ke kisaran 157 yen per dolar AS—menguat hampir 2 yen dalam sekitar 10 menit.
Penguatan tersebut tidak bertahan lama. Sekitar pukul 17.00 pada hari yang sama, yen kembali melemah ke sekitar 158 yen per dolar AS, menandai volatilitas tinggi dalam rentang waktu yang singkat.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan intervensi nilai tukar, Menteri Keuangan Katayama Satsuki pada 23 Januari tidak memberikan jawaban langsung. Ia menyatakan pemerintah selalu memantau pasar dengan sangat hati-hati.
Sejumlah pelaku pasar menilai kemungkinan intervensi tidak dapat diabaikan. Ahli strategi senior Resona Holdings, Iguchi Keiichi, menyebut pola fluktuasi harga membuat opsi intervensi tetap terbuka. Sementara itu, peneliti senior Divisi Modal dan Valuta Asing Mitsubishi UFJ Bank, Okada Yusuke, menilai adanya kesan aktivitas pembelian yen yang cukup berkelanjutan, sehingga mengarah pada dugaan “pemeriksaan nilai tukar,” yang kerap dipandang sebagai langkah pra-intervensi.
Meski demikian, ada pula pandangan yang meragukan adanya intervensi. Sebagian pihak menilai, pada intervensi sebelumnya, pergerakan harga biasanya lebih besar, dengan fluktuasi yang bisa melampaui 5 yen. Ahli strategi Minato Bank, Kariya Shogo, berpendapat lonjakan tersebut juga dapat dipicu aksi investor asing yang mengambil keuntungan dalam skala besar ketika perdagangan di Eropa dimulai.
Selain itu, di tengah meningkatnya kehati-hatian pasar, muncul dugaan bahwa pesanan beli-jual dolar AS terhadap yen dalam skala besar memicu transaksi otomatis berbasis komputer. Rangkaian transaksi ini disebut menarik order lain dan memperburuk volatilitas. Beberapa investor yang menanggung kerugian untuk membeli yen dan menjual dolar AS juga diduga terseret dalam siklus tersebut, sehingga memperlebar fluktuasi harga.

