Kinerja keuangan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang memburuk hingga kuartal III/2025 dinilai menjadi alasan kuat perlunya penyelamatan melalui restrukturisasi utang. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebut langkah penataan ulang kewajiban perusahaan penting agar WIKA dapat tetap beroperasi dan bertahan.
Menurut Tauhid, WIKA menjadi salah satu contoh BUMN karya yang menanggung beban berat sejak era percepatan pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Joko Widodo. Saat itu, BUMN karya menjadi ujung tombak sejumlah proyek strategis nasional, tidak hanya sebagai kontraktor, tetapi juga melalui penyertaan modal dalam proyek penugasan.
Ia menilai kondisi tersebut menekan keuangan perusahaan, termasuk WIKA yang kini harus menata ulang kewajiban. Salah satu beban besar disebut berasal dari proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), di mana WIKA wajib menyetorkan modal hampir Rp12 triliun dengan beban bunga pinjaman mencapai Rp2 triliun per tahun. Selain itu, WIKA juga menghadapi kewajiban pembayaran bunga obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada Februari 2025.
“Mau tidak mau utang WIKA itu harus disesuaikan. Ini sejalan dengan rencana restrukturisasi utang ke China yang bisa sampai 60 tahun. Jadi restrukturisasi memang menjadi alternatif agar WIKA bisa bertahan,” kata Tauhid.
Tekanan terhadap kinerja WIKA, menurutnya, turut dipengaruhi penurunan anggaran infrastruktur pemerintah pada 2025. Hingga September 2025, kontrak baru yang diperoleh WIKA tercatat Rp6,19 triliun, turun sekitar 60% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp15,58 triliun. Penjualan perusahaan juga turun 27,55% dari Rp12,54 triliun menjadi Rp9,09 triliun.
Dalam laporan kinerja kuartal III/2025, WIKA membukukan rugi bersih Rp3,21 triliun, berbalik dari laba Rp741,43 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi tersebut seiring penurunan pendapatan bersih 27,54% secara tahunan menjadi Rp9,09 triliun pada kuartal III/2025 dari Rp12,54 triliun pada kuartal III/2024.
Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen infrastruktur dan gedung yang tercatat anjlok 41,73% secara tahunan menjadi Rp3,95 triliun. Sementara segmen industri turun 25,36% menjadi Rp2,63 triliun.
Tauhid menilai restrukturisasi menjadi langkah yang sulit dihindari untuk memulihkan kesehatan perusahaan. Ia juga menekankan perlunya penyesuaian bunga pinjaman agar beban WIKA tidak semakin berat. “Ketika restrukturisasi, bunganya harusnya bisa dikurangi. Jangan sampai bebannya makin berat. Kalau bunganya makin besar, justru masalah baru yang muncul,” ujarnya.
Selain restrukturisasi, Tauhid menyebut WIKA perlu dukungan tambahan pemerintah melalui proyek-proyek baru yang berpotensi menghasilkan keuntungan. Menurutnya, peluang tersebut lebih terbuka pada proyek infrastruktur baru. “Kalau untuk proyek kereta cepat saya kira sudah tidak mungkin, tapi untuk proyek baru infrastruktur masih bisa. Itu penting agar WIKA bisa menutup kerugian yang ada,” katanya.

