Pergerakan harga logam mulia belakangan menunjukkan volatilitas yang tidak biasa, memunculkan pertanyaan tentang perannya sebagai aset lindung nilai. Perak, misalnya, mencatat fluktuasi ekstrem dalam setahun terakhir. Harganya sempat melonjak lebih dari tiga kali lipat sebelum kemudian anjlok 31% pada 30 Januari, yang menjadi penurunan harian terdalam sejak 1980. Meski demikian, secara tahunan harga perak masih tercatat menguat sekitar 138%.
Emas juga mengalami pergerakan tajam. Pada Selasa, harga emas melonjak 6,07% dan membukukan kenaikan harian terbaik sejak 2009. Lonjakan itu terjadi hanya dua hari setelah emas mengalami penurunan terburuk dalam sejarah.
Kondisi tersebut tercermin pada Indeks Volatilitas Emas Cboe yang tahun ini naik ke level tertinggi sejak pandemi Covid-19 pada 2020. Kenaikan indeks itu menggambarkan intensitas volatilitas emas yang meningkat dalam periode terbaru.
Analis Interactive Brokers, Steve Sosnick, menilai situasi ini menyulitkan pelabelan emas atau perak sebagai instrumen pelindung nilai ketika fluktuasinya mencapai dua digit. “Aset lindung nilai Anda seharusnya bukan bagian portofolio yang paling fluktuatif,” ujarnya.
Menurut Sosnick, penurunan tajam yang terjadi memang terasa menyakitkan, tetapi dapat dipandang sebagai konsekuensi dari spekulasi yang sangat agresif. “Ketika Anda melihat penurunan seperti ini, itu memang spektakuler, itu menyakitkan,” katanya, seraya menambahkan bahwa pergerakan tersebut dalam beberapa hal merupakan dampak alami dari aktivitas spekulatif yang kuat.

