Ubisoft mengumumkan restrukturisasi besar-besaran di tengah kondisi perusahaan yang kian menantang. Langkah ini diambil setelah sejumlah game terbaru perusahaan dinilai gagal memenuhi target penjualan dalam satu dekade terakhir.
Dalam keterangan resmi, Ubisoft menyebut keputusan tersebut dipengaruhi oleh pasar game AAA yang semakin selektif, meningkatnya persaingan di genre shooter, serta tantangan membangun merek baru di tengah biaya pengembangan yang tinggi.
Ke depan, perusahaan asal Prancis itu menyatakan akan memfokuskan pengembangan pada game petualangan dunia terbuka (open world adventures) serta pendekatan Games as a Service (GaaS) yang kerap dikaitkan dengan model live service. Ubisoft juga menyebut akan meningkatkan investasi pada teknologi canggih, termasuk generative AI yang dapat berinteraksi langsung dengan pemain.
CEO Ubisoft Yves Guillemot mengatakan perusahaan akan menjalankan roadmap baru selama tiga tahun yang berorientasi pada pemangkasan biaya. Dampaknya, beberapa proyek game akan dibatalkan, sejumlah studio akan ditutup, dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal diperkirakan kembali terjadi, dengan studio yang disebut terdampak antara lain Halifax, Abu Dhabi, dan Massive.
Salah satu proyek yang terdampak adalah Prince of Persia: The Sands of Time Remake yang telah dikembangkan sejak 2020. Selain itu, dilaporkan ada lima game lain yang turut dibatalkan, termasuk tiga IP baru dan satu game mobile. Menurut Ubisoft, pembatalan dilakukan karena proyek-proyek tersebut tidak memenuhi standar kualitas baru perusahaan.

