Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Israel menahan diri dan menghentikan serangan yang menargetkan infrastruktur energi Iran. Permintaan itu muncul setelah Israel mengakui telah menyerang ladang gas alam milik Iran, langkah yang memicu kekhawatiran internasional.
Trump menyatakan kekhawatirannya bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak dan gas. Kenaikan harga energi, menurutnya, berisiko menekan perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi, sekaligus berdampak pada konsumen di Amerika Serikat.
Perkembangan konflik Israel-Iran dinilai memasuki fase yang lebih berbahaya karena menyasar infrastruktur sipil yang penting bagi perekonomian Iran. Serangan terhadap fasilitas produksi gas alam dipandang bukan sekadar operasi militer, tetapi juga dapat mengganggu kapasitas ekonomi Iran dalam jangka panjang.
Namun, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang lebih luas terhadap stabilitas pasar energi dunia. Iran disebut sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar di kawasan Asia Barat, sehingga gangguan pada infrastruktur energinya dikhawatirkan berpengaruh pada pasokan dan harga energi secara global.
Dalam pernyataannya, Israel menyebut serangan dilakukan secara unilateral sebagai bentuk pertahanan diri dan respons terhadap ancaman yang dirasakan dari Iran. Sementara itu, Trump menilai eskalasi semacam ini dapat memicu reaksi berantai dari Iran dan kelompok-kelompok proksinya di Timur Tengah.
Trump juga menyoroti risiko terganggunya jalur perdagangan strategis, terutama Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Kekhawatiran ini menjadi bagian dari pertimbangan Washington dalam mendorong langkah-langkah deeskalasi.
Permintaan Trump kepada Israel menggambarkan penekanan pada stabilitas ekonomi dan pasar energi global dalam merespons krisis Timur Tengah. Komunitas internasional kini menunggu bagaimana Israel menanggapi permintaan tersebut serta apakah langkah-langkah deeskalasi akan diambil dalam waktu dekat.