BERITA TERKINI
Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Perlambatan Global, Inflasi Terkendali dan Investasi Menguat

Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Perlambatan Global, Inflasi Terkendali dan Investasi Menguat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah tantangan global, ketika pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan berada di kisaran 2,6% hingga 3,3% berdasarkan data IMF, OECD, dan Bank Dunia. Menurutnya, Indonesia berpeluang mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam kegiatan Media Briefing: Update on Economic and Reform Measures di Badan Komunikasi Pemerintah RI, Senin (13/4/2026). Ia menyebut ketahanan ekonomi Indonesia ditopang oleh permintaan domestik yang kuat melalui konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah, serta diperkuat stabilitas sektor eksternal, kebijakan yang disiplin, dan koordinasi kelembagaan.

Airlangga menuturkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi 54% terhadap PDB. Ia juga menyampaikan Mandiri Spending Index berada pada level 360,7.

Di sektor pangan, produksi beras nasional disebut hampir mencapai 34,7 juta ton dengan stok cadangan beras Bulog mendekati 4,6 juta ton. Airlangga menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu cadangan beras terkuat yang pernah dimiliki Indonesia. Sementara di sektor energi, pemerintah memperkuat kemandirian melalui implementasi program B50 dan mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3%. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5%,” kata Airlangga.

Memasuki triwulan II 2026, ia menyampaikan posisi ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Indikator yang disebut antara lain inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Di sektor manufaktur, indeks tercatat 50,1 yang menunjukkan fase ekspansi, sementara cadangan devisa berada di level USD148,2 miliar.

Airlangga juga menyampaikan sektor perbankan nasional dinilai solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali. Dari sisi eksternal, kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar disebut turut memberikan natural hedging terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas.

Dari sisi fiskal, APBN disebut tetap berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, serta kompensasi dengan nilai sekitar Rp11,92 triliun. Airlangga menambahkan defisit APBN per Maret 2026 tercatat 0,93% terhadap PDB.

Ia juga menyoroti peningkatan transaksi mata uang lokal. “Transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujarnya.

Airlangga menyampaikan sejumlah indikator sosial ekonomi menunjukkan tren perbaikan, dengan tingkat kemiskinan 8,25%, pengangguran 4,7%, dan rasio gini 0,363. Ia menambahkan, realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menyebut hilirisasi menjadi salah satu program yang didorong Presiden Prabowo Subianto. Pada 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun (USD36,5 miliar), tumbuh 43,3% secara tahunan dan berkontribusi 30,2% terhadap total realisasi investasi 2025. Kontribusi terbesar disebut berasal dari sektor mineral dan batu bara, diikuti perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas, serta perikanan dan kelautan.

Pemerintah, kata Airlangga, juga memperkuat kemudahan berusaha melalui pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) dan reformasi regulasi lewat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Langkah itu diarahkan untuk penyederhanaan perizinan melalui penerapan SLA, penguatan kebijakan berbasis risiko, serta digitalisasi melalui OSS-RBA.

Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) disebut terus menunjukkan kinerja positif sebagai motor investasi dan pertumbuhan sektor bernilai tambah, termasuk pada sektor manufaktur maju, hilirisasi mineral, ekonomi digital, pariwisata, dan kesehatan. Dalam kerja sama internasional, Airlangga menyampaikan adanya kemajuan sejumlah kerja sama ekonomi dan perdagangan, termasuk dengan Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia, serta penguatan peran Indonesia di berbagai forum global seperti BRICS, G20, OECD, RCEP, ASEAN, dan CPTPP.

Dalam sesi diskusi, Airlangga menegaskan kebijakan subsidi energi tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah disebut menyiapkan cadangan fiskal yang memadai agar kebijakan harga energi dapat dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan global.

Di sektor investasi, ia menyampaikan komitmen penanaman modal asing (FDI) menunjukkan tren positif, termasuk untuk proyek strategis di sektor energi, semikonduktor, dan pusat data. Airlangga menyebut sejumlah faktor yang dinilainya menjadi daya tarik investasi pusat data di Indonesia, mulai dari ketersediaan lahan, harga energi yang kompetitif, energi bersih, hingga potensi pasar domestik dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa.