Satu generasi lalu, Polandia masih menerapkan penjatahan bahan pokok seperti gula dan tepung. Saat itu, pendapatan warganya hanya sekitar sepersepuluh dari Jerman Barat. Kini, situasinya berbalik: ekonomi Polandia disebut telah melampaui Swiss dan masuk jajaran 20 ekonomi terbesar dunia, dengan nilai output tahunan menembus lebih dari 1 triliun dollar AS atau sekitar Rp 16.993 triliun.
Perubahan besar itu mulai bergerak setelah runtuhnya rezim komunis pada 1989–1990. Sejak periode tersebut, Polandia tumbuh menjadi salah satu motor ekonomi Eropa. Sejumlah ekonom menilai pengalaman negara ini menyimpan pelajaran penting tentang cara meningkatkan kesejahteraan.
Di tingkat global, kemajuan Polandia juga memunculkan dorongan pengakuan yang lebih luas. Pemerintahan Donald Trump sempat mendorong agar Polandia mendapat pengakuan lebih besar dengan mengundangnya ke Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 (G20). Namun, undangan tersebut dinilai bersifat simbolis karena keanggotaan G20 ditentukan melalui konsensus serta mempertimbangkan pengaruh sistemik dalam ekonomi global, bukan semata ukuran produk domestik bruto.
Transformasi itu juga terlihat pada pilihan individu. Joanna Kowalska, seorang insinyur asal Poznan, memutuskan pulang setelah lima tahun bekerja di Amerika Serikat. Poznan, kota berpenduduk sekitar 500.000 jiwa, berada di antara Berlin dan Warsawa.
“Saya sering ditanya apakah saya kehilangan sesuatu dengan kembali ke Polandia, dan, jujur saja, saya merasa sebaliknya,” kata Kowalska. “Kita lebih maju dari Amerika Serikat di banyak bidang,” sambungnya.
Kowalska kini bekerja di Pusat Komputasi Super dan Jaringan Poznan, lembaga yang mengembangkan pabrik kecerdasan buatan pertama di Polandia. Proyek itu terhubung dengan komputer kuantum, salah satu dari 10 unit di Eropa yang didanai Uni Eropa.
Sebelumnya, Kowalska bekerja di Microsoft setelah lulus dari Universitas Teknologi Poznan. Ia menyebut pekerjaan tersebut sebagai “mimpi yang menjadi kenyataan”. Meski demikian, ia menilai peluang di tanah air justru lebih besar, terutama pada bidang kecerdasan buatan yang disebutnya berkembang pesat di Polandia. “Jadi, sangat menggoda untuk kembali,” ujarnya.
Indikator ekonomi memperlihatkan lonjakan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Produk domestik bruto (PDB) per kapita Polandia tercatat mencapai 55.340 dollar AS pada 2025 atau sekitar Rp 940,28 juta, setara 85 persen rata-rata Uni Eropa. Pada 1990, PDB per kapita Polandia masih 6.730 dollar AS atau sekitar Rp 114,36 juta, setara 38 persen rata-rata Uni Eropa.
Posisi tersebut kini mendekati Jepang yang berada pada level 52.039 dollar AS atau sekitar Rp 884,15 juta, menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Sementara itu, sejak bergabung dengan Uni Eropa pada 2004, ekonomi Polandia tumbuh rata-rata 3,8 persen per tahun—jauh di atas rata-rata Eropa yang berada di angka 1,8 persen.