Lebaran Idulfitri kerap membawa kebahagiaan sekaligus tantangan bagi keuangan. Pengeluaran biasanya meningkat sejak sebelum hari raya, saat perayaan berlangsung, hingga setelahnya. Tak sedikit orang merasa kondisi dompet menipis karena berbagai kebutuhan dan tradisi Lebaran.
Sejumlah aktivitas yang umum dilakukan selama Lebaran dapat memicu pengeluaran besar. Mulai dari berbelanja baju baru—survei Populix mencatat 29 persen anak muda masih mengidentikkan Lebaran dengan baju baru—hingga berbagi hampers dan THR, membeli kue kering serta bahan makanan untuk makan bersama, dan biaya mudik.
Untuk membantu keuangan kembali tertata setelah Lebaran, Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr. Wita Juwita Ermawati, menyarankan metode pengelolaan uang 50-30-20. Pola ini dapat diterapkan setelah menerima pendapatan pasca-Lebaran, misalnya gaji bulanan.
Dalam metode 50-30-20, 50 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan. Mengacu pada situs resmi United Nations Federal Credit Union (UNFCU), porsi 50 persen untuk kebutuhan mencakup pengeluaran yang bersifat esensial seperti belanja kebutuhan sehari-hari (groceries), tagihan, utang atau cicilan, hingga biaya kesehatan. UNFCU menekankan, kebutuhan adalah hal-hal yang sulit ditinggalkan karena berkaitan dengan kelangsungan hidup.
Sementara itu, porsi 30 persen untuk keinginan dapat digunakan untuk pengeluaran non-esensial, seperti langganan streaming atau aplikasi hiburan, liburan, makan di restoran dengan harga lebih tinggi untuk self-reward, serta biaya hobi.
Adapun 20 persen sisanya diarahkan untuk tabungan. Menurut UNFCU, tabungan bisa berupa dana darurat, dana pensiun, tabungan pernikahan, atau tabungan untuk rencana masa depan. Dr. Wita menambahkan, ketersediaan tabungan dan dana darurat dapat membantu mencegah seseorang terpaksa berutang di kemudian hari.
Agar metode tersebut lebih mudah diterapkan setelah Lebaran, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, menghitung total pengeluaran selama Lebaran. Meski mengecek saldo dan meninjau pengeluaran bisa terasa berat, Dr. Wita menilai langkah ini penting untuk mengetahui pos keuangan yang terganggu.
“Penting untuk memeriksa apakah ada pos keuangan yang terganggu, tabungan yang terpakai, atau bahkan utang yang muncul,” ujar Wita. Setelah mengetahui bagian mana yang terdampak, langkah perbaikan bisa disusun dengan lebih terarah.
Kedua, mengidentifikasi kebutuhan. Buat daftar kebutuhan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang—mulai dari kebutuhan sehari-hari, kesehatan, hingga rencana liburan—lalu urutkan berdasarkan prioritas. Fokus pada kebutuhan yang paling mendesak dan sesuaikan dengan kemampuan, serta tekan atau coret pengeluaran yang kurang penting. Tahap ini masuk dalam porsi 50 persen untuk kebutuhan.
Ketiga, membayar utang dan tagihan. Financial Planner Eko Indarto menyarankan agar kewajiban finansial yang muncul selama Lebaran segera diselesaikan. Pembayaran utang dan tagihan juga termasuk dalam porsi 50 persen untuk kebutuhan.
“Bayar dulu kewajiban utang dan bayar tagihan, kemudian alokasikan untuk berbagai kebutuhan pokok dan penting, kemudian baru sisanya untuk keinginan,” kata Eko, dikutip dari kumparanBISNIS.
Dengan menata ulang prioritas pengeluaran dan membagi pendapatan sesuai posnya, keuangan setelah Lebaran diharapkan dapat kembali stabil dan lebih terkontrol.