BERITA TERKINI
The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Global Tertekan di Tengah Gejolak Timur Tengah

The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Global Tertekan di Tengah Gejolak Timur Tengah

Pada dini hari 19 Maret, bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Sikap hati-hati Ketua The Fed Jerome Powell, bersama proyeksi suku bunga The Fed edisi Maret, dinilai memberi sinyal bahwa pemangkasan suku bunga bisa sangat terbatas, bahkan berpotensi hanya terjadi sekali sepanjang 2026.

Keputusan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang disebut turut mendorong ekonomi global ke dalam bayang-bayang stagflasi. Dalam situasi tekanan likuiditas yang disebut terjadi secara ganda, pasar keuangan global mengalami aksi jual, termasuk pada aset logam mulia seperti emas dan perak.

Tekanan juga datang dari kebijakan bank sentral utama lainnya. Selain The Fed, bank sentral Inggris, Jepang, Swiss, dan Kanada mempertahankan suku bunga tidak berubah. Sementara itu, Reserve Bank of Australia disebut bergerak berlawanan dengan tren dengan menaikkan suku bunga menjadi 4,1%. Kondisi ini dipandang mendorong biaya modal ke tingkat yang tinggi.

Saat pembiayaan investasi menjadi lebih mahal, sejumlah dana investasi besar disebut melakukan restrukturisasi portofolio untuk mengelola risiko. Mereka menjual aset yang sangat likuid, termasuk emas dan perak, untuk menutup kerugian dari pasar saham. Dalam periode yang sama, Dow Jones dilaporkan turun lebih dari 6,5% sejak konflik Iran meningkat, Hang Seng turun 4% pekan ini, Kospi sempat turun lebih dari 8% hingga perdagangan dihentikan untuk menstabilkan pasar, dan Nikkei sempat melemah lebih dari 11%.

Penurunan harga emas dan perak digambarkan sebagai reaksi mekanis dari aliran modal jangka pendek, yang dipicu oleh daya tarik dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah. Dalam narasi tersebut, pelemahan harga tidak dianggap mencerminkan penurunan nilai intrinsik maupun perubahan struktur penawaran-permintaan logam mulia.

Dari sisi geopolitik dan energi, langkah Iran yang menargetkan Selat Hormuz—jalur penting yang disebut membawa 20% cadangan minyak dunia, dengan 80% di antaranya menuju Asia—dilaporkan segera mendorong lonjakan harga minyak mentah dan gas alam. Kenaikan itu kemudian dikaitkan dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok, terutama produk pertanian. Timur Tengah juga disebut rentan karena sekitar 70% impor pangannya melewati selat tersebut.

Selain itu, serangan udara terhadap infrastruktur pelayaran Arab serta ancaman pemberontak Houthi untuk menutup Selat Bab al-Mandab disebut memaksa perusahaan pelayaran menghindari Terusan Suez dan memilih rute memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika. Lonjakan biaya pengiriman dan logistik dipandang mengulang skenario gangguan rantai pasok global.

Di tengah meningkatnya tekanan resesi, The Fed dinilai menghadapi dilema untuk mengubah arah kebijakan moneternya. Meski berupaya menampilkan sikap agresif, ekonomi AS disebut menunjukkan tanda-tanda pelemahan berdasarkan sejumlah data terbaru.

Tingkat pengangguran AS dilaporkan naik tipis menjadi 4,4% pada Februari. Jumlah pekerjaan sektor non-pertanian juga disebut turun tak terduga sebanyak 92.000. Sementara itu, penjualan ritel pada Januari turun 0,2%, yang diartikan sebagai sinyal konsumen mulai tertekan setelah tabungan menipis di tengah harga dan suku bunga yang tinggi.