Pemeriksaan awal terhadap kondisi ekonomi global sejak pecahnya perang di Timur Tengah akan tercermin melalui rangkaian survei bisnis dari Amerika Serikat hingga zona euro. Sejumlah indikator ini dipandang dapat memberi gambaran awal mengenai dampak ekonomi yang mulai terbentuk.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) awal untuk Maret—berdasarkan perkiraan yang dihimpun Bloomberg—diproyeksikan turun di berbagai negara. Median estimasi ekonom menunjukkan pelemahan yang terjadi secara serentak, baik di sektor manufaktur maupun jasa. Rilis data tersebut dijadwalkan pada Selasa (24/2).
Hasil survei ini dinilai akan menjadi indikasi awal atas akumulasi tekanan ekonomi yang muncul tiga minggu setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Dampak tersebut juga dikaitkan dengan lonjakan harga energi menyusul gangguan pengiriman dan produksi di kawasan, serta meningkatnya risiko terhadap inflasi konsumen global.
Tekanan inflasi yang kembali menguat telah memicu respons beragam dari bank sentral dalam beberapa hari terakhir. Di Inggris, pejabat menunda rencana pelonggaran kebijakan. Di zona euro, sejumlah negara mengadopsi bias pengetatan. Sementara itu, pembuat kebijakan di Australia melanjutkan kenaikan suku bunga.
Di Amerika Serikat, setelah sinyal dari Federal Reserve bahwa penurunan biaya pinjaman masih belum dekat, investor disebut membatalkan taruhan atas pemangkasan suku bunga pada tahun ini.
“Yang paling utama adalah dampak perang terhadap inflasi,” kata Chris Williamson, kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence, dalam laporan yang dikutip Bloomberg, Sabtu (21/3).
Rangkaian pembacaan PMI awal mencakup Australia, Jepang, dan India, serta zona euro, Inggris, dan Amerika Serikat. Pada hari yang sama, Jerman—ekonomi terbesar di Eropa—juga dijadwalkan merilis indikator ekspektasi bisnis Ifo yang dipantau ketat, dengan antisipasi penurunan ke level terendah dalam 13 bulan. Sementara itu, pengukuran dari Prancis dan Italia akan menyusul pada pekan yang sama.
Selain itu, prakiraan terbaru dari OECD yang berbasis di Paris diperkirakan turut mencerminkan perubahan prospek tersebut sebagai penilaian gabungan pertama sejak pecahnya perang. Prakiraan ini dapat menjadi sinyal awal sebelum proyeksi yang lebih komprehensif dirilis Dana Moneter Internasional pada pertengahan April.