Penerbit Anak Bunda kian dikenal sebagai penerbit buku edukasi anak yang ramai diperbincangkan di media sosial. Jejaring pemasarannya disebut berkembang luas berkat strategi yang berfokus pada pemanfaatan kanal digital.
Founder Penerbit Anak Bunda, Ihsan Setiadi, menjelaskan bahwa ia memanfaatkan pengetahuan akademiknya untuk membangun sistem pemasaran yang lebih kuat. Mahasiswa Marketing Binus University ini mengembangkan strategi berbasis digital melalui promosi di marketplace, termasuk memanfaatkan program event Shopee seperti Double Date Sale hingga Gajian Sale.
Selain mengandalkan kampanye di marketplace, Ihsan juga memperluas jaringan penjualan melalui reseller dengan menawarkan potongan harga hingga 60%. Ia menyebut saat ini terdapat lebih dari 30 reseller aktif di berbagai kota besar Indonesia yang turut memasarkan buku Anak Bunda, sebagaimana dikutip dari siaran pers Binus Incubator pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Di sisi lain, Anak Bunda memperkuat kehadiran merek lewat media sosial dan kanal resmi. Penerbit ini mengembangkan akun di Instagram dan TikTok, serta mengelola website resmi sebagai sarana branding sekaligus portofolio perusahaan.
Menjelang akhir 2025, Anak Bunda menargetkan ekspansi ke toko buku nasional, termasuk Gramedia dan TM Bookstore. Langkah tersebut disebut ditujukan untuk memperkuat posisi Anak Bunda di industri penerbitan anak di Indonesia.
Ihsan mengakui perjalanan membangun usaha tidak selalu mulus. Ia menyebut keterbatasan modal, tantangan membangun kepercayaan pasar, serta dampak pandemi yang menurunkan penjualan sebagai bagian dari proses yang membentuk strategi bisnisnya. Menurutnya, pengalaman itu mengajarkan pentingnya fleksibilitas untuk bertahan.
Pandemi, kata Ihsan, juga menjadi momentum untuk memperkuat penjualan online dan menghadirkan paket belajar di rumah. Transformasi digital dinilai menjadi titik balik perkembangan Anak Bunda, terutama saat awal usaha masih menghadapi kendala pengenalan merek.
Seiring pertumbuhan bisnis, Anak Bunda mengembangkan sejumlah produk unggulan, antara lain “60 Jam Pintar Baca Tanpa Dieja” dan “60 Jam Baca Tulis Tanpa Dieja”. Buku-buku tersebut disusun berdasarkan tahapan perkembangan anak, didesain penuh warna, dan mengedepankan pembelajaran mandiri.
Inovasi lain yang diperkenalkan mencakup versi wipe-and-clean, paket homeschooling, serta konten digital pendukung berupa video dan panduan bagi orang tua. Anak Bunda juga mulai menjalin kolaborasi dengan penulis dan ilustrator lokal untuk memperluas jangkauan produk.

