Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyiapkan kegiatan perekahan hidraulik (fracturing) di sumur migas nonkonvensional (MNK) Gulamo yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Hasil fracturing dinilai krusial untuk memastikan kelayakan teknis pengembangan sumur tersebut.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Benny Lubiantara, mengatakan pemompaan untuk proses perekahan direncanakan dilakukan pada awal pekan berikutnya. Menurutnya, evaluasi dari hasil fracturing akan menjadi penentu apakah kegiatan di Gulamo layak secara teknis untuk dilanjutkan.
“Sekarang untuk kegiatan MNK di Rokan, sumur Gulamo sedang siap-siap untuk kegiatan fracturing. Rencananya pemompaan untuk perekahan (fracturing) diadakan awal minggu depan. Hasil fracturing ini sangat penting untuk memastikan secara teknis feasible atau tidak,” kata Benny dalam bincang santai virtual beberapa waktu lalu.
Dalam catatan ruangenergi.com, pemerintah melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) turut mendukung proses fracturing dengan menyiapkan pasir (sand) sebagai material penopang. Disebutkan, sepuluh sampel terbaik sculpting sand telah dikirim ke Amerika Serikat untuk menentukan sampel pasir yang paling sesuai bagi kebutuhan perekahan.
Selain Gulamo, terdapat satu sumur eksplorasi MNK lain, yakni Kelok DET. Keduanya disebut sebagai sumur terdalam di wilayah Sumatera bagian tengah yang secara operasional berhasil, dan diharapkan dapat menambah sumber daya setelah rangkaian operasi dan evaluasi pengeboran selesai.
Sementara itu, PHR juga melanjutkan kegiatan pemboran pada empat sumur eksplorasi migas konvensional, yaitu Pinang East, Mibasa, Sihangat, dan Astrea. EVP Upstream Business PHR Andre Wijanarko menyatakan kegiatan pemboran masih berlangsung dan pada tahap ini telah menunjukkan hasil positif, sembari menunggu uji kandungan lapisan maupun kemungkinan dilanjutkan ke tahap produksi.

