Potensi blokade berkepanjangan di Selat Hormuz dinilai dapat memicu dampak serius terhadap perekonomian global. Selain berisiko mendorong kenaikan harga energi, gangguan pada jalur pelayaran strategis ini juga dapat menimbulkan efek berantai pada pasokan pupuk, pangan, hingga sektor industri berteknologi tinggi.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan pemerintahnya terus memantau perkembangan konflik yang memengaruhi jalur perdagangan energi dunia tersebut. Menurut Wong, situasi masih dinamis dan durasi operasi militer yang berlangsung belum dapat dipastikan.
“Kami memantau situasi dengan cermat karena situasinya dinamis. Awalnya AS mengatakan bahwa operasi militer ini akan berakhir dalam beberapa minggu. Sekarang kita sudah memasuki minggu ketiga. Kami tidak tahu kapan operasi ini akan berhenti,” ujar Wong dalam konferensi pers saat kunjungan ke Jepang, Jumat (20/3/2026).
Wong menekankan, perhatian tidak hanya tertuju pada operasi militer, tetapi juga pada kemungkinan berlanjutnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz. “Namun, terlepas dari operasi militer, pertanyaan kuncinya adalah apakah Selat Hormuz akan terus diblokir dan berapa lama,” katanya.
Ia memperingatkan, blokade berkepanjangan dapat membawa konsekuensi luas dan berpotensi mendorong perlambatan ekonomi global. “Sekalipun operasi militer dihentikan, tetapi Selat Hormuz terus diblokir dalam jangka waktu yang lebih lama, saya pikir akan ada konsekuensi serius bagi seluruh perekonomian global,” ujar Wong.
Menurut Wong, selama ini perhatian publik banyak tertuju pada gangguan pasokan minyak dan gas. Namun, ia menilai dampaknya bisa meluas ke sektor lain, termasuk pasokan pupuk yang pada akhirnya memengaruhi pangan. “Banyak perhatian tertuju pada minyak dan gas, tetapi dampaknya lebih luas dari itu karena pasokan pupuk, misalnya, dapat terpengaruh, dan kemudian akan berdampak pada pasokan pangan,” kata Wong.
Wong juga menyoroti potensi gangguan pada pasokan helium global yang melewati jalur tersebut. Ia menyebut sekitar 30 persen helium dunia masuk melalui Selat Hormuz. Komoditas itu digunakan dalam mesin MRI dan peralatan khusus di rumah sakit, serta dalam produksi semikonduktor.
“Atau ambil contoh lain seperti helium. Saya rasa 30 persen helium dunia masuk melalui Selat Hormuz, dan helium digunakan dalam mesin MRI, peralatan khusus di rumah sakit. Helium juga digunakan dalam produksi semikonduktor,” ujarnya. Ia menambahkan, “Jadi, ini digunakan di banyak bidang lain. Jadi, akan ada banyak potensi dampak berantai.”
Wong menegaskan, jika penyumbatan selat berlangsung lama, dampaknya dapat signifikan bagi ekonomi global dan meningkatkan risiko kemerosotan hingga resesi. “Oleh karena itu, penyumbatan selat yang berkepanjangan akan memiliki implikasi signifikan bagi ekonomi global dan dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam kemerosotan, penurunan, atau bahkan resesi,” kata Wong.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Wong menyatakan pemerintah Singapura telah menyiapkan berbagai langkah untuk meredam dampak ekonomi domestik. Ia mengatakan kebijakan yang sudah diumumkan dalam Anggaran 2026 diharapkan segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dunia usaha.
“Jadi, ini adalah hal-hal yang kami khawatirkan. Kami tidak tahu apakah itu akan terjadi, tetapi kami memantaunya dengan sangat cermat,” ujar Wong.