Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyerang Iran disebut telah menjadi kenyataan. Dalam laporan yang ditulis Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga, disebutkan Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat dan mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan menyasar pangkalan militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah, memperburuk situasi keamanan kawasan.
Dalam konteks geopolitik, Iran dinilai memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman. Di kawasan ini terdapat Selat Hormuz, jalur laut penting yang disebut dilintasi sekitar 20 persen produksi minyak global. Jika selat tersebut ditutup, dampaknya diperkirakan besar terhadap pasokan minyak dunia, berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan mengganggu perekonomian global.
Selain Selat Hormuz, jalur lain yang disorot adalah Bab el-Mandeb yang berada di antara Yaman dan Djibouti. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan berperan penting bagi akses menuju Terusan Suez. Terusan Suez sendiri merupakan salah satu rute utama yang menghubungkan Eropa dan Asia, dengan sekitar 12 persen perdagangan global melintas di jalur tersebut. Penutupan Bab el-Mandeb dinilai dapat memaksa kapal-kapal mengalihkan rute dengan mengelilingi Afrika, yang berarti penambahan biaya dan waktu pengiriman serta berpotensi mengganggu rantai pasok global.
Rahma menekankan bahwa Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan titik cekik ekonomi dunia. Selat ini disebut hanya selebar sekitar 21 mil, namun hampir 30 persen minyak dunia melewatinya, sekitar 20 juta barel per hari, ditambah pasokan LNG yang turut menopang kebutuhan energi Eropa. Dengan kepadatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, kapal-kapal besar yang bergerak lambat dipandang rentan menjadi target rudal dan drone, sementara karakter selat yang sempit dinilai mengurangi ruang manuver dan meningkatkan risiko serangan.
Sejumlah peristiwa masa lalu dikemukakan sebagai gambaran sensitivitas pasar energi terhadap gangguan di kawasan. Perang Tanker pada 1980-an disebut pernah mendorong kenaikan harga minyak hingga 30 persen, sementara serangan pada 2019 yang menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi, Aramco, disebut membuat harga minyak naik sekitar 20 persen dalam waktu singkat. Contoh tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa gangguan pasokan, bahkan dalam skala terbatas, dapat memicu lonjakan harga minyak global.
Bab el-Mandeb juga disebut sebagai titik tekanan strategis lain. Dalam tulisan tersebut dinyatakan hampir 30 persen perdagangan kontainer global melewati jalur ini. Gangguan keamanan di Bab el-Mandeb disebut telah menurunkan lalu lintas pelayaran secara signifikan, dengan penurunan hampir 70 persen pada 2023, sehingga banyak kapal harus mengambil rute alternatif yang lebih panjang dan memicu keterlambatan serta biaya besar.
Dengan posisi geografis dan pengaruh terhadap jalur energi serta perdagangan, Iran dinilai memiliki daya tawar yang besar. Jika Iran diserang, dampaknya disebut tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, melainkan dapat berimplikasi luas secara global. Dalam skenario terburuk, bila Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb terganggu secara bersamaan, konsekuensinya diperkirakan berupa lonjakan harga minyak, peningkatan inflasi, serta perlambatan perdagangan dunia.
Tulisan tersebut juga menyoroti potensi dampak konflik Iran-AS bagi Indonesia. Pertama, gangguan di Selat Hormuz diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan beban subsidi BBM serta listrik, yang berisiko memaksa pemerintah merealokasi anggaran pembangunan ke perlindungan sosial. Kedua, pelemahan rupiah disebut bisa semakin dalam, bahkan hingga Rp17.000 per dolar AS, yang berpotensi memicu inflasi barang impor karena sebagian bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri. Ketiga, instabilitas di Timur Tengah disebut dapat memicu gerakan radikal transnasional, sementara meningkatnya sentimen anti-Barat dinilai bisa dimanfaatkan aktor nonnegara untuk mengaktifkan kembali sel-sel tidur di Asia Tenggara.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, sejumlah strategi disebut perlu disiapkan Indonesia. Di antaranya memperkuat fondasi ekonomi domestik, terutama sektor energi, guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak; melakukan diversifikasi energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan; menjalankan diplomasi aktif melalui kerja sama dengan negara-negara Timur Tengah dan organisasi internasional untuk mendorong penyelesaian damai; serta memperkuat keamanan, termasuk keamanan siber dan intelijen, untuk mengantisipasi ancaman radikalisasi dan terorisme.
Secara keseluruhan, situasi geopolitik Timur Tengah digambarkan sangat kompleks dan cepat berubah. Ketegangan yang meningkat akibat konflik dan ancaman serangan disebut telah memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi dan perdagangan global, sekaligus menuntut kesiapan negara-negara, termasuk Indonesia, untuk merespons dampak ekonomi dan keamanan yang mungkin timbul.

