BERITA TERKINI
Sentimen Global Memburuk, IHSG Terkoreksi di Awal Perdagangan

Sentimen Global Memburuk, IHSG Terkoreksi di Awal Perdagangan

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Senin, 19 Januari 2026, dengan koreksi. Pada awal sesi, IHSG berada di level 9.047 atau melemah 0,30 persen dibanding posisi sebelumnya.

Sejumlah indeks acuan turut bergerak bervariasi. Indeks LQ45 turun 0,34 persen ke level 886, sementara Jakarta Islamic Index (JII) tercatat stabil di level 613. Sejumlah saham yang menahan penurunan indeks antara lain ISAT, KLBF, JPFA, CTRA, dan PGAS.

Pergerakan di awal pekan ini terjadi setelah IHSG menutup perdagangan pekan lalu di level 9.075,4 dan menguat sekitar 1,6 persen secara mingguan. Penguatan tersebut sejalan dengan derasnya aliran dana asing ke pasar saham domestik, dengan akumulasi beli bersih sekitar Rp4,2 triliun dalam sepekan. Saham berkapitalisasi besar yang menjadi pendorong utama penguatan indeks di antaranya DSSA, TLKM, BBRI, dan BMRI.

Sejak awal tahun, saham AMMN disebut menjadi kontributor terbesar kenaikan IHSG dengan sumbangan sekitar 48,6 poin, seiring lonjakan harga sahamnya sebesar 24,9 persen secara year to date (YTD) hingga penutupan perdagangan 15 Januari 2026.

Di tengah penguatan pasar saham pada pekan lalu, tekanan masih terlihat pada instrumen keuangan lain. Nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi dan pada perdagangan Jumat ditutup di kisaran Rp16.855 per dolar AS. Sejalan dengan itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak naik ke rentang 6,2–6,3 persen.

Dari sisi teknikal, Mirae Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berada dalam tren naik jangka pendek yang kuat, namun sudah memasuki area jenuh beli (overbought). Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko aksi ambil untung meski momentum bullish masih solid.

Area resistance terdekat diperkirakan berada pada kisaran 9.125 hingga 9.175. Sementara itu, koreksi menuju area 9.000 hingga 8.950 dinilai masih tergolong sehat. Selama IHSG bertahan di atas level 8.925, tren bullish jangka pendek disebut masih terjaga, dengan strategi buy on weakness tetap relevan bagi pelaku pasar.

Di sisi eksternal, pasar keuangan global mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan kecenderungan melemah. Tekanan terutama datang dari Wall Street yang ditutup di zona merah menyusul pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait arah kebijakan Federal Reserve serta meningkatnya tensi geopolitik.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,17 persen ke level 49.359,33, sedangkan S&P 500 melemah 0,06 persen ke posisi 6.940,01. Di Eropa, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,04 persen ke 10.235,29. Di Asia, indeks Nikkei Jepang turun 0,32 persen ke 53.936,17.

Pelemahan Wall Street terjadi setelah Trump, dalam pidatonya di hadapan Kongres, menyatakan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett akan tetap berada di posisinya dan kecil kemungkinan dipilih sebagai gubernur Federal Reserve berikutnya. Setelah pidato tersebut, muncul nama Kevin Warsh, mantan anggota Dewan Gubernur The Fed periode 2006–2011, sebagai kandidat baru.

Pelaku pasar menilai Hassett lebih bersahabat dengan pasar keuangan karena dinilai cenderung mendukung kebijakan pemangkasan suku bunga. Sementara itu, Warsh dipersepsikan lebih berhati-hati, sehingga memicu kekhawatiran investor terkait arah kebijakan moneter ke depan.

Dari sisi geopolitik, sentimen pasar juga tertekan oleh meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Eropa. Trump kembali memicu kontroversi dengan mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencananya terkait pengambilalihan Greenland.

Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun Indonesia tercatat relatif stabil di level 6,25 persen. Risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun membaik, turun 0,65 persen ke level 71,08. Sementara itu, indeks volatilitas VIX naik tipis ke 15,86, mencerminkan kehati-hatian investor global. Instrumen berbasis Indonesia di pasar global seperti TLKM ADR dan ETF EIDO masing-masing terkoreksi 0,37 persen dan 0,42 persen.

Dari pasar komoditas, harga logam tercatat mengalami tekanan, dengan timah anjlok 7,71 persen dan nikel turun 5,39 persen. Emas dan perak juga melemah seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter. Sebaliknya, harga CPO menguat hampir 2 persen, sementara batu bara Newcastle naik tipis.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan kebijakan Federal Reserve serta dinamika geopolitik global yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan di pasar keuangan.