BERITA TERKINI
Selat Hormuz dan Perannya sebagai Jalur Kritis Pasokan Minyak Dunia

Selat Hormuz dan Perannya sebagai Jalur Kritis Pasokan Minyak Dunia

Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah. Jalur sempit yang kerap disebut energy chokepoint ini berperan penting dalam distribusi energi global, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan dan harga minyak dunia.

Menurut laporan World Economic Forum tertanggal 17 Maret 2026, sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara dengan sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia—melewati Selat Hormuz. Besarnya volume yang melintas membuat kawasan ini menjadi salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi internasional.

Data International Energy Agency menunjukkan, sebagian besar minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia, termasuk Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Karena ketergantungan tersebut, negara-negara di kawasan ini dinilai paling rentan apabila terjadi gangguan pengiriman.

Gangguan di Selat Hormuz dilaporkan meningkat sejak konflik di Iran memanas pada akhir Februari 2026. Kondisi ini menyebabkan kapal-kapal tanker terhambat dan memicu terganggunya pasokan energi global.

Dampaknya terlihat pada pergerakan harga. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga sekitar USD106 per barel atau sekitar Rp1,8 juta per barel, dibandingkan sebelumnya sekitar USD70 per barel atau sekitar Rp1,1 juta per barel.

Sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk—seperti Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain—sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk menyalurkan ekspor mereka. Sementara itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab disebut hanya memiliki jalur alternatif yang terbatas untuk distribusi minyak.

Di sisi lain, data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat Venezuela sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia dengan lebih dari 303 miliar barel. Posisi berikutnya ditempati Arab Saudi dengan 267 miliar barel, disusul Iran 208 miliar barel, Irak 145 miliar barel, dan Uni Emirat Arab 113 miliar barel.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menegaskan tingginya ketergantungan dunia pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz. Situasi ini juga memperkuat dorongan untuk mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.