Kurs rupiah sempat menyentuh rekor intraday sekitar Rp16.985 per dolar AS pada 20 Januari 2026. Level ini tercatat lebih lemah dibanding posisi intraday saat krisis 1998 yang berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS, sebagaimana dilaporkan BBC dan CNBC.
Episode pelemahan ini menjadi perhatian karena terjadi ketika indeks dolar AS tidak berada dalam kondisi yang sangat kuat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor global, melainkan juga dipengaruhi unsur domestik.
Dalam konteks target pertumbuhan ekonomi 5,4% yang ditetapkan Kementerian Keuangan untuk 2026, volatilitas rupiah dinilai bukan persoalan kecil. Pergerakan nilai tukar yang bergejolak dapat menekan ekspektasi pelaku usaha, meningkatkan biaya modal, serta berpotensi mengganggu rantai pasok impor bahan baku. Dampak lanjutan dari kondisi ini dapat memengaruhi konsumsi dan investasi.
Secara historis, rupiah dikenal sensitif terhadap perubahan selera risiko di pasar keuangan global dan ketidakpastian geopolitik. Namun dalam episode kali ini, tekanan dinilai muncul dari kombinasi beberapa faktor.
Pertama, arus keluar portofolio. Reuters melaporkan bahwa sepanjang 2025 terjadi arus keluar asing dari pasar obligasi pemerintah sekitar 6,5 miliar dolar AS. Kondisi ini menambah tekanan pada rupiah dan sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Kedua, kekhawatiran fiskal. Defisit 2025 disebut melebar menjadi 2,92% dari PDB atau sekitar Rp697 triliun, mendekati batas legal 3% dari PDB. Situasi tersebut mendorong pasar untuk menilai ulang risiko yang melekat pada prospek fiskal.
Ketiga, isu independensi bank sentral. Pasar mencatat kekhawatiran terkait independensi Bank Indonesia menguat setelah muncul “kandidat tertentu” untuk posisi Deputi Gubernur BI. Kekhawatiran ini juga sejalan dengan dugaan pasar mengenai adanya isu “penguatan fiskal”.
Selain faktor-faktor tersebut, terdapat unsur musiman yang kerap muncul, seperti meningkatnya permintaan dolar untuk impor menjelang Ramadan serta pembayaran dividen. Faktor ini dapat mempertebal tekanan jangka pendek pada rupiah.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dalam periode ini dipandang bukan semata akibat sentimen global atau murni persoalan domestik. Tekanan muncul dari interaksi keduanya, dan pada titik inilah koordinasi serta kredibilitas kebijakan publik menjadi sorotan.

