BERITA TERKINI
Rumor Merger Grab–GOTO Memanas, Sejumlah Emiten Berpotensi Terdampak

Rumor Merger Grab–GOTO Memanas, Sejumlah Emiten Berpotensi Terdampak

Isu penggabungan usaha antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dan Grab kembali menguat dalam beberapa hari terakhir. Rumor ini mencuat setelah pernyataan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada 7 November 2025 yang membenarkan adanya rencana merger antara GOTO dan PT Grab Teknologi Indonesia, anak usaha Grab di Indonesia.

Prasetyo juga menyebut adanya keterlibatan Danantara dalam rencana tersebut. Namun pada tahap awal, ia menyampaikan pemerintah masih mencari skema yang paling tepat, apakah berbentuk merger atau akuisisi. Hingga kini, belum ada kepastian resmi dari kedua perusahaan mengenai kelanjutan rencana tersebut.

Pada 10 November 2025, baik GOTO maupun Grab menyatakan belum ada pembicaraan lebih detail terkait rencana merger. Grab juga memilih tidak berkomentar. Di sisi lain, GOTO dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 November 2025. Namun pada 11 November 2025, manajemen menegaskan agenda RUPSLB tersebut tidak berkaitan dengan rencana merger atau akuisisi dengan Grab. Perusahaan menyatakan mata acara RUPSLB akan diumumkan paling lambat 18 November 2025 sesuai ketentuan.

Di tengah ketidakpastian itu, beredar pula informasi bahwa sejumlah pemegang saham GOTO—disebut antara lain Softbank, Provident Capital Partners, dan Peak XV—menginginkan Patrick Walujo mundur dari posisi CEO untuk memuluskan merger. Patrick disebut sebagai pihak yang menentang rencana pengambilalihan GOTO oleh Grab. Namun, manajemen GOTO membantah kabar tersebut.

Perhatian publik juga tertuju pada aspek persaingan usaha. Kepala Biro Humas dan Kerja Sama KPPU Deswin Nur, saat ditanya media, menyatakan konsentrasi pasar di atas 50% dapat dikategorikan sebagai monopoli, tetapi KPPU tidak otomatis menganggap monopoli sebagai pelanggaran. Penilaian tetap diperlukan untuk menentukan apakah ada praktik yang dilarang serta kemungkinan syarat atau remedial yang harus dijalankan pihak terkait. Dalam rumor yang beredar, hasil merger GOTO dan Grab disebut berpotensi menciptakan penguasaan pasar hingga 90% di Singapura maupun Indonesia.

Pada 12 November 2025, muncul kabar adanya escrow fund senilai 300 juta dolar AS di Singapura yang dikaitkan dengan rencana merger. Dana itu disebut-sebut disiapkan untuk buyout kepemilikan saham GOTO milik Telkomsel atau TLKM, dengan nilai yang dianggap sebanding dengan investasi Telkomsel di Gojek sejak 2020. Namun, manajemen membantah spekulasi tersebut.

Rumor lain muncul pada 13 November 2025, ketika Financial Times melaporkan GOTO dan Grab dikabarkan kembali bernegosiasi dengan menawarkan golden share kepada Danantara untuk mengamankan merger senilai 29 miliar dolar AS. Disebut pula ada rencana founder Grab Anthony Tan untuk menemui Presiden Indonesia Prabowo Subianto terkait lobi rencana akuisisi-merger. Meski demikian, belum ada kepastian dari rumor-rumor tersebut.

Opsi skema transaksi

Dalam wacana yang berkembang, terdapat beberapa kemungkinan skema transaksi. Pertama, Grab mengakuisisi sepenuhnya saham Gojek (bukan seluruh GOTO), dengan pembagian pengelolaan bisnis transportasi online di Indonesia oleh Gojek dan Grab fokus di luar Indonesia, namun kendali tetap di Grab. Kedua, skema serupa dengan opsi pertama tetapi Danantara mengambil bagian pada saham Gojek. Ketiga, Grab mengakuisisi seluruh GOTO termasuk GoTo Financial, lalu mengkonsolidasikan bisnis dengan pembagian GOTO menguasai Indonesia dan Grab menguasai ASEAN.

Keempat, skema tukar guling saham: Gojek mengakuisisi bisnis Grab di Indonesia (PT Grab Teknologi Indonesia), lalu Grab memperoleh kepemilikan saham di Gojek atau GOTO dalam persentase tertentu. Skema ini disebut sebagai opsi yang dinilai paling mungkin karena pernah diterapkan Grab saat mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara melalui pertukaran kepemilikan saham, serta dinilai tidak membutuhkan arus kas besar keluar dari kedua pihak.

Dampak terhadap kinerja perusahaan

Dari sisi kinerja, Grab pada kuartal III/2025 (akumulasi 9 bulan) mencatat laba bersih 96 juta dolar AS, berbalik dari rugi 131 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih ini didorong segmen mobility dan delivery, sedangkan bisnis keuangan masih mencatat EBITDA adjusted negatif 26 juta dolar AS.

Sementara itu, GOTO masih mencatat rugi Rp775 miliar pada kuartal III/2025, meski menyusut dari Rp4,3 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen on-demand service (Gojek dan GoFood) mencatat laba usaha Rp645 miliar. Kerugian terutama berasal dari bisnis keuangan yang rugi Rp346 miliar serta biaya korporasi Rp950 miliar.

Jika konsolidasi terjadi, terdapat pandangan bahwa margin keuntungan berpotensi membaik. Margin EBITDA adjusted segmen on-demand service Grab disebut sekitar 16%, sedangkan GOTO sekitar 10%. Jika margin bisa naik menjadi 20% melalui penurunan biaya insentif konsumen, kinerja entitas hasil konsolidasi dinilai dapat menjadi lebih positif.

Emiten yang berpotensi terdampak

Sejumlah saham di Indonesia dinilai berpotensi terpengaruh oleh wacana merger ini, baik karena berinvestasi di GOTO/Grab maupun memiliki afiliasi bisnis dengan ekosistem keduanya.

Pertama, emiten yang berinvestasi. Tiga saham yang disebut terkait adalah PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Astra International Tbk. (ASII), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK). TLKM dan ASII merupakan pemegang saham GOTO sejak pre-IPO. Disebutkan TLKM memiliki sekitar 23,72 miliar lembar saham GOTO dengan harga rata-rata Rp270 per saham, sedangkan ASII memiliki sekitar 18,6 miliar saham dengan harga rata-rata Rp187 per saham.

Dalam skenario tertentu, jika aksi korporasi besar ini dapat mendorong harga saham GOTO kembali ke Rp300 per saham, TLKM dan ASII berpotensi diuntungkan dari sisi nilai investasi. Namun, disebut pula bahwa untuk mencapai level tersebut dibutuhkan inflow dana besar dari investor lokal maupun asing, mengingat terdapat sekitar 300.000 investor ritel di saham GOTO dan supply free float mencapai 916 miliar lembar saham.

Adapun EMTK merupakan pemegang saham minoritas di Grab Holding Ltd. Disebutkan EMTK semula memiliki 79,3 juta lembar saham Grab senilai Rp6 triliun pada akhir 2024, lalu melepas 41,6 juta lembar senilai Rp3,41 triliun pada awal 2025. Per 30 September 2025, EMTK disebut masih memiliki 37,63 juta lembar saham Grab setara Rp3,78 triliun. Jika transaksi merger mendorong kenaikan harga saham Grab di pasar saham AS, kondisi tersebut dinilai dapat menguntungkan EMTK.

Kedua, emiten yang memiliki afiliasi bisnis, terutama bank digital yang terkait ekosistem GOTO dan Grab, yakni PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dan Superbank (yang disebut sedang dalam proses IPO). ARTO disebut sebagai entitas bank milik Grup Northstar—investor awal Gojek—dan terafiliasi dengan ekosistem GOTO. Hingga September 2025, pertumbuhan kredit ARTO disebut naik 36% menjadi Rp23,4 triliun, dengan 99% pendorong kredit berasal dari partnership dan ecosystem lending.

Disebutkan beberapa transaksi kredit ARTO ke pihak partnership dan ekosistem meliputi PT Multifinance Anak Bangsa (GoPay Later), BFIN, serta Kredit Pintar (di mana Northstar disebut menjadi salah satu investor). Jika Grab mengakuisisi keseluruhan GOTO, muncul pertanyaan mengenai kontribusi bisnis GoPay Later terhadap ARTO, sehingga terdapat risiko berkurangnya keterkaitan ekosistem bagi ARTO.

Grab juga memiliki bank di Indonesia melalui Superbank, melalui kolaborasi dengan EMTK via PT Elang Media Visitama yang disebut menjadi pengendali. Superbank disebut menyalurkan kredit ke ekosistem terafiliasinya, antara lain PT Teknologi Pengangkutan Indonesia (jasa rental untuk Grab) dan PT Abhimata Acme Indonesia (bisnis data center EMTK). Dalam catatan yang beredar, belum ditemukan rencana kerja sama Superbank dengan OVO PayLater; sejauh ini Superbank disebut baru bekerja sama dengan OVO untuk penghimpunan dana.

Selain sektor perbankan, kolaborasi bisnis lain juga dinilai dapat terdampak, misalnya Go Fleet—kolaborasi antara ASII dan Gojek—yang berpotensi terpengaruh tergantung strategi konsolidasi dengan PT Teknologi Pengangkutan Indonesia milik Grab. Sementara itu, kolaborasi dengan Telkomsel disebut berada pada posisi lebih aman karena Grab juga bekerja sama dengan operator seluler tersebut.

Persetujuan regulator menjadi kunci

Meski isu merger menguat, realisasi transaksi dinilai masih membutuhkan waktu karena harus memperhitungkan detail integrasi masing-masing ekosistem. Prosesnya juga akan bergantung pada persetujuan otoritas persaingan usaha, yakni KPPU di Indonesia dan otoritas terkait di Singapura. Skema tukar guling saham disebut sebagai opsi yang paling cepat, dengan kemungkinan penyelesaian kurang dari 12 bulan, namun tetap bergantung pada keputusan regulator di kedua negara.