Pasar modal Indonesia diperkirakan akan kedatangan dua emiten baru yang berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal I 2026. BEI telah mengungkap sektor calon pendatang baru tersebut, yakni infrastruktur dan pertambangan.
Di kalangan pelaku pasar, PT Anugrah Neo Energy Materials (Neo Energy) disebut-sebut sebagai salah satu kandidat emiten sektor pertambangan yang tengah bersiap melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Informasi yang beredar menyebutkan perusahaan telah menyelesaikan tahap registrasi awal IPO dan akan memasuki tahap edukasi investor dalam waktu dekat.
Namun hingga berita ini ditulis, belum ada informasi resmi dari manajemen Neo Energy terkait kabar tersebut.
Berdasarkan keterangan di laman resmi perusahaan, Neo Energy pertama kali beroperasi pada 2007 dengan mengantongi izin tambang di Morowali, Sulawesi Tengah. Perusahaan menyebut izin tersebut menjadi landasan awal untuk memasuki sektor pertambangan.
Neo Energy memposisikan diri sebagai perusahaan yang berfokus pada pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) yang berkelanjutan. Perusahaan menyatakan menggarap rantai nilai baterai EV dari hulu hingga hilir, mulai dari ekstraksi dan pengolahan hingga pengembangan teknologi katoda, dengan pendekatan yang menggabungkan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab dan pemanfaatan energi terbarukan.
Dari sisi kinerja operasional, perusahaan mencatat penjualan bijih nikel pada 2024 mencapai 2,2 juta wmt. Manajemen juga menyebut telah memperoleh persetujuan RKAB baru dengan kapasitas produksi maksimum 2,5 juta wmt hingga 2026.
Ekspansi melalui akuisisi tambang
Dalam pengembangan usaha, Neo Energy tercatat memperluas basis aset dengan mengakuisisi PT Multi Dinar Karya (MDK), operator konsesi pertambangan nikel di Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Akuisisi ini menambah tambang produksi kedua dalam portofolio perusahaan dan dinilai dapat mendukung diversifikasi sumber bijih nikel.
Perusahaan menyampaikan optimisme bahwa tambahan aset tersebut dapat memperkuat keamanan pasokan bijih bagi rencana pabrik pengolahan ke depan sekaligus meningkatkan skala operasi hulu. Penambahan konsesi baru juga disebut meningkatkan cadangan dan potensi produksi, serta memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia terintegrasi untuk pasar bahan baku baterai kendaraan listrik.
Proyek smelter HPAL dan target kapasitas MHP
Pada September 2024, Neo Energy melakukan peletakan batu pertama proyek High-Pressure Acid Leaching (HPAL) di Kawasan Industri Neo Energy Morowali (NEMIE). Perusahaan menyebut proyek tersebut sebagai pembangunan smelter HPAL pertama di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan.
Pada kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan proyek baterai HPAL Neo Energy diharapkan dapat menambah kapasitas Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) nasional sebesar 120 ribu MT per tahun.
Rumor kemitraan dengan produsen baterai asal Cina
Selain kabar IPO, beredar pula rumor bahwa Gotion High-Tech—perusahaan baterai asal Cina yang juga disebut sebagai mitra strategis Volkswagen Group—akan bergabung sebagai mitra strategis Neo Energy.
Skema yang beredar menyebut Gotion dikabarkan akan mengambil porsi saham pada proyek HPAL milik ANEM, sekaligus menyediakan transfer teknologi dan jaminan pembelian (offtake) untuk produk MHP. Gotion juga disebut akan bertindak sebagai standby buyer dalam rencana IPO. Meski begitu, belum ada informasi mengenai besaran porsi maupun nilai investasi, dan perusahaan belum mengumumkan jadwal serta jumlah saham yang akan dilepas apabila IPO terlaksana.
Lima proyek utama yang disiapkan
1) Proyek nikel laterit TAS Mine
TAS Mine merupakan tambang nikel laterit utama Neo Energy di Morowali, Sulawesi Tengah. Tambang ini memegang IUP bernomor 001 dan disebut memiliki sumber daya lebih dari 200 juta ton nikel, serta memiliki dua dermaga operasional. Beroperasi sejak 2010, tambang ini disebut menjadi sumber utama arus kas dan penopang pasokan bijih untuk grup.
2) Proyek MDK Mine di Tojo Una-Una
Tambang MDK berada di Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, dengan area 10.800 hektare. Dalam rencana ekspansi, Neo Energy menyebut akan membangun dua lokasi dermaga (jetty). Proyek ini diproyeksikan menjadi sumber bijih berkapasitas tinggi kedua, mendukung diversifikasi pendapatan, serta memastikan pasokan limonit jangka panjang untuk pengolahan baterai.
3) Proyek HPAL berkarbon rendah
Neo Energy menyiapkan pabrik HPAL berkarbon rendah untuk memproduksi MHP sebagai bagian dari rantai pasok baterai EV. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2029, dengan kapasitas produksi lebih dari 61.000 ton nikel dan lebih dari 4.000 ton kobalt per tahun. Perusahaan menyatakan proyek ini akan memanfaatkan teknologi ENFI dan bijih dari tambang sendiri, serta menyebut adanya insentif pajak selama 20 tahun dan logistik terintegrasi.
4) Proyek Strategis Nasional NEMIE
NEMIE ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2024. Kawasan industri hijau ini berlokasi di mulut tambang TAS, Morowali, dengan luas 4.758 hektare dan dilengkapi dua dermaga operasional. Fokusnya disebut pada pengolahan bahan baku baterai dan produksi kendaraan listrik. Perusahaan juga menyebut rencana pelabuhan laut dalam yang ditargetkan beroperasi pada 2026 serta pembangkit listrik captive.
5) Kawasan Industri Hijau NEPIE
Neo Energy juga menyebut pengembangan Kawasan Industri Hijau NEPIE sebagai bagian dari proyek yang tengah disiapkan.
Dengan rangkaian ekspansi tambang, pembangunan smelter HPAL, serta pengembangan kawasan industri hijau, Neo Energy menjadi salah satu nama yang ramai dibicarakan sebagai calon emiten baru sektor nikel. Meski demikian, realisasi IPO dan detail kemitraan strategis yang dirumorkan masih menunggu konfirmasi resmi dari perusahaan.

