BERITA TERKINI
Rumiatun, Agen BRILink di Grobogan yang Memperpendek Akses Layanan Keuangan Warga Desa

Rumiatun, Agen BRILink di Grobogan yang Memperpendek Akses Layanan Keuangan Warga Desa

Warga Desa Prigi RT 05/RW 01, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, sempat menghadapi keterbatasan akses layanan perbankan. Untuk menarik tunai, menyetor uang, atau sekadar mengecek saldo, masyarakat harus menempuh jarak cukup jauh ke kantor cabang bank. Kondisi ini membuat waktu, tenaga, dan biaya transportasi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mayoritas warga yang bekerja sebagai petani.

Melihat kebutuhan tersebut, Rumiatun—yang dikenal dekat dengan warga dan memiliki pengalaman sebagai pedagang—menilai bahwa layanan yang diperlukan masyarakat tidak hanya sebatas barang konsumsi dan sarana pertanian, tetapi juga akses keuangan yang lebih mudah dijangkau. Dari pengamatan itu, ia kemudian mengembangkan kiosnya menjadi titik layanan BRILink Agen, sebagai perpanjangan tangan layanan perbankan hingga tingkat desa.

Selain tetap menjalankan usaha kios pupuk, Rumiatun kini melayani berbagai transaksi keuangan, mulai dari tarik tunai, transfer, hingga pembayaran tagihan. Ia mengatakan kehadiran layanan di kiosnya bertujuan agar warga tidak perlu pergi jauh untuk bertransaksi maupun mengambil bantuan. “Niat saya adalah supaya warga desa tidak perlu jauh-jauh lagi kalau mau tarik uang atau ambil bantuan,” ujar Rumiatun.

Seiring berjalan, warga dapat melakukan transaksi lebih dekat dari tempat tinggal. Layanan yang tersedia mencakup tarik tunai, setor uang, transfer, serta pembayaran tagihan. Salah satu layanan yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah pencairan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Dalam proses pencairan BPNT, Rumiatun berperan layaknya petugas yang membantu penerima bantuan untuk mengecek saldo dan melakukan tarik tunai melalui layanan BRILink Agen. Menurutnya, pencairan BPNT tidak lagi harus dilakukan di kantor cabang karena bisa diakses lebih dekat, efisien, dan praktis. “Pencairan BPNT pun tidak lagi harus dilakukan di kantor cabang, karena melalui AgenBRILink, layanan tersebut tersedia lebih dekat, lebih efisien, dan lebih praktis bagi masyarakat desa,” katanya.

Meski demikian, perjalanan Rumiatun sebagai agen BRILink tidak sepenuhnya mulus. Pada masa awal operasional, ia menghadapi rendahnya pemahaman masyarakat terhadap layanan BRILink. Banyak warga belum mengetahui bahwa transaksi seperti tarik tunai, setor tunai, transfer, hingga pencairan bantuan sosial dapat dilakukan langsung di desa tanpa harus pergi ke kantor cabang bank.

Rumiatun juga menyebut sebagian warga belum memiliki kartu ATM maupun buku tabungan. Kondisi ini membuat persoalan literasi dan inklusi keuangan menjadi tantangan tersendiri, sehingga perannya tidak berhenti pada melayani transaksi.

Dalam praktiknya, ia kemudian turut menjadi jembatan edukasi keuangan bagi masyarakat sekitar. Rumiatun aktif memberikan pemahaman mengenai manfaat menabung, penggunaan layanan perbankan, serta pentingnya bertransaksi melalui sistem keuangan formal. Secara bertahap, upaya tersebut membangun kepercayaan warga dan mendorong mereka mengenal serta memanfaatkan layanan perbankan dengan lebih optimal.

Secara lebih luas, hingga akhir Desember 2025 jumlah BRILink Agen disebut telah mencapai lebih dari 1,1 juta agen atau tumbuh 12,2% secara tahunan (year-on-year/YoY). Jaringan agen tersebut tersebar di 66 ribu desa dan menjangkau lebih dari 80% wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Dalam pernyataan yang dikutip, Akhmad menyebut peran BRILink Agen telah bertransformasi dari penyedia layanan transaksi menjadi “lifestyle micro provider”, yang menggambarkan konsistensi BRI dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan memberdayakan.