Jakarta, CNBC Indonesia – Economist CNBC Indonesia Research, Maesaroh, menilai lonjakan harga minyak mentah dunia akibat penutupan Selat Hormuz serta memanasnya perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berpotensi memberi dampak besar terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Menurutnya, gangguan rantai pasok sejumlah komoditas—mulai dari minyak dan gas (migas), pupuk, hingga pangan—menjadi semakin mengkhawatirkan. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong kenaikan harga minyak dan pangan dunia, yang pada akhirnya berisiko memicu inflasi melonjak.
Bagi Indonesia, situasi ini berpotensi meningkatkan biaya impor, baik untuk minyak maupun pangan. Kenaikan biaya impor tersebut dapat menambah beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) serta menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Maesaroh juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah sebagai faktor yang dapat memperburuk tekanan fiskal. Pelemahan rupiah dinilai bisa mendorong defisit APBN meningkat, melemahkan aktivitas ekonomi domestik, dan pada akhirnya mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dari sisi investasi, gejolak perang disebut berpotensi menekan pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Ia menyebut investor mulai mengurangi kepemilikan pada aset berisiko, termasuk di negara berkembang (emerging market), dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven) atau memilih menyimpan dana dalam bentuk kas.
Analisis mengenai dampak perang terhadap ekonomi, pasar keuangan, serta arah kebijakan bank sentral dibahas dalam dialog Syarifah Rahma bersama Maesaroh di program Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (13/03/2026).