PT Gag Nikel di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, menyatakan komitmennya menjaga kelestarian lingkungan, terutama terkait kualitas air laut agar tidak tercemar serta pelaksanaan reklamasi lahan bekas tambang.
Senior Manajer PT Gag Nikel, Mustajir, menjelaskan perusahaan membangun kolam-kolam penyaringan untuk menampung limpahan air dari lokasi tambang agar tidak langsung mengalir ke laut. Saat hujan, air limpasan ditampung di beberapa kolam dan disaring bertahap sebelum dialirkan.
“Kolam-kolam ini dibuat bertingkat hingga ke kolam terakhir. Setelah air dipastikan jernih dan aman bagi ikan maka baru dialirkan ke laut. Di kolam akhir ini juga diletakkan ikan sebagai indikantor untuk memastikan bahwa air aman,” kata Mustajir saat mendampingi wartawan yang mengunjungi lokasi tambang PT Gag Nikel di Kampung Gag, Distrik Waigeo Barat Kepulauan, Raja Ampat, Jumat, 23 Januari 2025.
Menurut Mustajir, di kolam akhir juga dipasang alat pemantau kualitas air yang disebut sparing sebagai indikator kesesuaian baku mutu. Alat tersebut, kata dia, terhubung langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup sehingga dapat dipantau selama 24 jam.
Ia mengatakan, jika baku mutu air melewati ambang batas, alat tersebut akan menyala dan kondisi itu dapat diketahui langsung oleh kementerian. “Ini bagian sikap terbuka PT Gag Nikel untuk selalu diawasi,” ujarnya.
Mustajir menambahkan, standar baku mutu air atau Total Suspended Solid (TSS) adalah 200 dan selama ini tidak pernah melebihi angka tersebut. Ia menyebut sepanjang 2025, angkanya berada di bawah 100.
Selain pengelolaan air, PT Gag Nikel yang merupakan anak perusahaan PT Antam juga menyampaikan keseriusannya menjalankan reklamasi di lahan bekas tambang. Reklamasi dilakukan pada lokasi yang telah selesai ditambang dan diawali kajian mendalam. “Rencana detail reklamasi ini menyangkut pohon yang akan ditanam, bagaimana cara tanam, hingga ukuran lubang tanamnya,” kata Mustajir.
Ia menjelaskan, rencana reklamasi diusulkan terlebih dahulu ke kementerian untuk mendapat persetujuan sebelum dijalankan. Dalam pelaksanaannya, perusahaan mengembalikan top soil atau tanah awal yang sebelumnya disisihkan saat penambangan. Keberadaan top soil dinilai penting agar tanaman yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.
Mustajir menyebut, saat penambangan dimulai, pengambilan tanah dilakukan pada bagian bawah dengan kedalaman tidak lebih dari 15 meter. Sementara tanah bagian atas tidak diambil dan akan dikembalikan saat reklamasi.
“PT Gag Nikel mulai melakukan penambangan tahun 2018, maka proses reklamasi telah dilakukan pada tahun yang sama. Program reklamasi awal dilakukan di Bukit Mandacan yang dinilai berhasil dan lahannya telah diserahkan ke pemerintah,” kata Mustajir.
Menurutnya, reklamasi tidak menunggu seluruh proses penambangan selesai. Setiap lahan yang sudah rampung ditambang langsung direklamasi. Indikator keberhasilan reklamasi, kata dia, dapat dilihat dari pertumbuhan pohon hingga tajuk bertemu tajuk.
Sejak 2018 hingga 2025, PT Gag Nikel menyatakan telah melakukan reklamasi seluas 138,24 hektare dengan jumlah pohon yang ditanam lebih dari 375.000 bibit. Dari jumlah tersebut, 72.000 bibit disebut merupakan pohon endemik Raja Ampat.
Mustajir menambahkan, di lahan reklamasi juga ditanam pohon buah, namun jumlahnya tidak lebih dari 24 persen. Selebihnya merupakan pohon-pohon hutan.
Ia mengatakan pelibatan media dalam kunjungan ke lokasi tambang bertujuan agar wartawan dapat melihat langsung kondisi di lapangan terkait kualitas air dan proses tambang secara keseluruhan. “Wartawan bisa membuktikan sendiri kondisi air laut apakah ada pencemaran. Kami berupaya terbuka sebagai komitmen perusahaan yang mengedepankan kepedulian pada pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, puluhan jurnalis juga dilibatkan dalam penanaman pohon di lokasi reklamasi pada bekas tambang aktif. Selain itu, wartawan turut melakukan pelepasan 101 tukik di Pantai Tuturuga, Pulau Gag, yang disebut sebagai tempat penangkaran penyu endemik Raja Ampat.

