PT Pertamina (Persero) membangun Proyek Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), yang diharapkan menjadi salah satu penopang distribusi energi bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur. Selain ditujukan untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan energi nasional, proyek ini juga dinilai memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Proyek terintegrasi dari hulu ke hilir tersebut mencakup pembangunan Pipa Gas Senipah, tangki penyimpanan raksasa Lawe-Lawe, Crude Distillation Unit (CDU), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, hingga Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) Tanjung Batu.
Aktivitas konstruksi di kawasan kilang turut menggerakkan usaha kecil di sekitar lokasi. Yanti, pemilik warung makan di sekitar Kilang Pertamina Balikpapan, mengatakan warungnya setiap hari melayani para pekerja proyek dengan menu rumahan. Selama proyek berlangsung, jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan yang diperoleh membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Alhamdulillah, kami bersyukur. Untuk sehari-hari perputaran ada. Mudah-mudahan pekerja Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan yang makan siang tetap bisa datang ke warung sekitar sini walau proses pembangunan telah selesai,” ujar Yanti dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).
Dampak serupa juga dirasakan Tuti, pemilik Warung Kube Mandiri di Mekar Sari, Kaltim. Ia menyebut warungnya kerap dipadati para pekerja proyek, terutama pada jam makan siang. “Makan siang ramai sekali, kadang tempat duduknya juga kurang. Lumayan sekali ada proyek itu dan sangat membantu. Harapannya proyek bisa terus berjalan sehingga yang makan semakin banyak,” kata Tuti.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan keberadaan proyek Pertamina di Kaltim dapat membuka dan memperluas lapangan kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Pada fase konstruksi, proyek yang termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) ini telah menyerap sekitar 24.000 tenaga kerja, yang sebagian besar berasal dari tenaga kerja dalam negeri.
Sementara pada fase operasi, kilang tersebut diproyeksikan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja secara langsung. Menurut Baron, pembukaan lapangan kerja itu menimbulkan efek berganda (multiplier effect) berupa peluang usaha dan lapangan kerja tidak langsung di berbagai sektor pendukung.
“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” ujar Baron.
Ia menambahkan, keterlibatan pelaku usaha setempat terlihat dalam rantai pasok proyek, penyediaan jasa pendukung, serta pemenuhan kebutuhan logistik dan konsumsi selama masa konstruksi dan operasi. Dalam pelaksanaan pembangunan kilang, Pertamina juga menjaga realisasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada kisaran 35 persen sebagai bentuk keberpihakan terhadap kemampuan industri nasional di sektor manufaktur maupun jasa.
Baron menyebut optimalisasi TKDN diharapkan memperkuat ekosistem industri dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing nasional. Pertamina juga menyatakan komitmen mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 serta mendorong program yang berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sejalan dengan transformasi perusahaan yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, serta keberlanjutan usaha dan lingkungan melalui penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional, berkoordinasi dengan Danantara Indonesia.

