Kepolisian Provinsi Nghe An mengeluarkan peringatan mendesak menyusul meningkatnya kasus penipuan daring yang memanfaatkan modus rekening tabungan online dengan tawaran “suku bunga sangat tinggi”. Skema ini menyasar masyarakat yang ingin memperoleh keuntungan aman, terutama di tengah situasi ekonomi yang dinilai tidak stabil.
Menurut kepolisian, pelaku umumnya memanfaatkan media sosial dan aplikasi perpesanan seperti Telegram untuk membuat grup, lalu mengajak anggota menempatkan dana dalam “tabungan” dengan iming-iming suku bunga berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding bank. Tawaran itu kerap disertai promosi seperti “tanpa risiko” dan “penarikan pokok fleksibel”, sehingga mendorong korban mentransfer uang tanpa verifikasi memadai.
Penegak hukum menilai para pelaku biasanya menyusun skema yang rapi untuk membangun kepercayaan, termasuk menggunakan gambar dan informasi palsu. Korban kemudian diarahkan mentransfer uang ke situs web atau aplikasi yang tidak dikenal. Setelah dana berpindah, pelaku disebut cepat menghapus jejak, membuat pelacakan menjadi sulit.
Salah satu korban, T. (32), warga Kota Vinh, Nghe An, mengaku tertipu setelah bergabung dengan grup investasi di Telegram. Dalam grup tersebut, pelaku rutin mengunggah informasi “paket tabungan khusus” dengan janji imbal hasil hingga 18–20% per tahun, disertai gambar transaksi dan dokumen perbankan yang dibuat seolah-olah autentik.
Pada awalnya, T. mentransfer 10 juta VND sebagai uji coba mengikuti arahan pemilik rekening yang mengaku “pakar keuangan”. Beberapa hari kemudian, ia menerima pemberitahuan pembayaran bunga yang disebut selalu tepat waktu. Pelaku juga berulang kali menelepon dan mendesaknya menaikkan nilai setoran untuk “mengoptimalkan keuntungan”. Karena percaya, T. terus mengirim dana hingga totalnya melebihi 120 juta VND.
Masalah muncul ketika T. hendak menarik pokok dan bunga sekaligus. Pelaku mulai mengajukan berbagai alasan, seperti “biaya penyelesaian”, “verifikasi rekening”, atau “biaya anti pencucian uang”, dan meminta korban mentransfer uang tambahan sebelum penarikan bisa diproses. Merasa janggal, T. menghentikan transaksi dan memeriksa ulang, namun mendapati akun-akun dalam grup telah dihapus dan situs web terkait tidak lagi dapat diakses. Ia mengaku kehilangan seluruh dana yang sudah ditransfer dan kemudian melapor ke polisi.
Kepolisian menegaskan tindakan penipuan dan penggelapan aset di ruang siber akan diproses tegas sesuai hukum. Pasal 174 KUHP mengatur sanksi mulai dari tindakan koreksi non-penjara hingga penjara seumur hidup, bergantung pada sifat dan tingkat keparahan pelanggaran. Selain itu, iklan palsu dan pemberian informasi palsu juga dapat dikenai sanksi administratif berdasarkan Keputusan 15/2020/ND-CP.
Untuk pencegahan, Kepolisian Provinsi Nghe An mengimbau masyarakat tidak bergabung dalam kelompok atau organisasi yang menghimpun dana atau menawarkan investasi keuangan tanpa izin sah. Warga juga diminta mewaspadai janji “bunga tinggi—tanpa risiko” dan tidak mentransfer uang kepada individu maupun organisasi yang identitas atau badan hukumnya tidak jelas. Jika menemukan tanda tidak wajar atau sudah menjadi korban, masyarakat diminta segera melapor agar penanganan dapat dilakukan tepat waktu.
Pakar keamanan Vu Ngoc Son, Kepala Departemen Teknologi Asosiasi Keamanan Siber Nasional, menilai penipuan daring kian canggih. Ia mendorong penerapan tiga lapis solusi secara bersamaan, yang ia gambarkan sebagai “perisai tiga lapis”: kerangka hukum, teknologi, dan keterampilan pengguna. Pada lapisan hukum, ia merujuk pada rancangan Undang-Undang Keamanan Siber 2025 yang menempatkan keamanan data sebagai fokus, termasuk larangan pencurian, penjualan, atau pertukaran ilegal data pribadi, serta larangan penggunaan teknologi untuk memalsukan informasi, gambar, suara, dan pemalsuan produk maupun merek.
Lapisan kedua adalah teknologi, misalnya penerapan otentikasi berlapis oleh bank dan lembaga keuangan melalui kata sandi, OTP, biometrik, serta analisis perilaku untuk mendeteksi transaksi tidak biasa. Lapisan ketiga adalah keterampilan, yang disebut paling penting, yakni membekali warga dengan pengetahuan sebagai “vaksin digital”.
Vu Ngoc Son juga mengusulkan prinsip “3 Larangan – 3 Tindakan Cepat”. “3 Larangan” meliputi: tidak percaya sepenuhnya (bahkan ketika menerima panggilan dengan wajah penelepon terlihat), tidak memasang aplikasi dari tautan tidak dikenal, dan tidak mentransfer uang tanpa verifikasi. Sementara “3 Tindakan Cepat” meliputi: segera memeriksa informasi mencurigakan, segera memutus sambungan saat diancam atau dimanipulasi, serta segera melapor kepada pihak berwenang jika terjadi insiden.
Pandangan serupa disampaikan pakar Ngo Minh Hieu, Direktur Anti-Fraud Company Limited. Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap panggilan, video, atau pesan dengan tanda tidak biasa, khususnya yang meminta transfer uang, data sensitif, atau permintaan foto dan video pribadi. Ia menekankan agar warga tidak membagikan foto, video, rekaman suara, informasi identitas, kode OTP, maupun detail rekening bank, terutama kepada pihak yang tidak dikenal. Jika ragu, informasi disarankan diverifikasi melalui saluran lain seperti menelepon langsung, bertemu, atau bertanya kepada kerabat sebelum memenuhi permintaan apa pun. Menurutnya, teknologi dapat disalahgunakan, sementara manusia kerap menjadi mata rantai terlemah ketika berada di bawah tekanan psikologis.
Dalam perkembangan lain, Anti-Fraud Project memperbarui situs webnya dengan menambahkan chatbot dan alat untuk mengidentifikasi situs web phishing. Pengguna dapat mengakses chongluadao.vn dan memasukkan tautan yang ingin diperiksa. Sistem akan membandingkan tautan tersebut dengan basis data Anti-Penipuan dan mitra pihak ketiga, lalu menampilkan hasil apakah situs aman, berbahaya, atau belum memiliki data yang jelas. Tersedia pula opsi “Analisis lebih lanjut menggunakan AI” yang menilai risiko berdasarkan sejumlah faktor seperti nama domain mencurigakan, konten ilegal, tautan berisiko, hingga penggunaan hosting yang tidak biasa, kemudian memberikan skor risiko pada skala 10 poin dan menampilkan rincian temuan mencurigakan.
Proyek Anti-Phishing yang didirikan bersama pada 2020 oleh Ngo Minh Hieu bertujuan membantu verifikasi keandalan dan memberi peringatan saat pengguna mengakses situs yang tidak aman. Pengguna juga dapat berkontribusi dengan melaporkan tautan berbahaya melalui situs tersebut.

