Momentum usai Lebaran kerap dimanfaatkan investor untuk kembali aktif di pasar sekaligus mengevaluasi strategi investasi. Tahun ini, evaluasi dinilai semakin penting karena pasar saham masih berada dalam fase volatilitas tinggi akibat tekanan global dan domestik.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif membuat investor tidak bisa lagi mengandalkan strategi agresif seperti saat pasar bullish. Menurut dia, pendekatan yang lebih hati-hati dan terukur menjadi kunci untuk menjaga kinerja portofolio tetap stabil.
“Dalam kondisi seperti ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan cenderung volatil karena investor global maupun domestik sedang menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan,” kata Hendra, Selasa (24/3/2026).
Hendra menyebut periode setelah libur panjang seperti Lebaran sebagai waktu yang tepat untuk menyusun ulang portofolio agar lebih adaptif terhadap dinamika pasar. Ia menyarankan investor memulai dari evaluasi komposisi portofolio secara menyeluruh, termasuk mengurangi saham dengan fundamental lemah atau yang terlalu spekulatif, terutama ketika kondisi pasar dinilai masih rapuh.
“Dalam kondisi pasar yang masih lesu seperti sekarang, langkah utama yang perlu dilakukan investor adalah menjaga disiplin manajemen risiko. Pendekatan yang lebih rasional adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat ketika harga berada di area support yang menarik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan volatilitas tinggi dapat memperbesar risiko pada saham dengan likuiditas rendah. Karena itu, investor diminta lebih selektif dalam memilih aset, dengan fokus pada emiten yang memiliki kinerja keuangan solid dan prospek bisnis yang jelas. Selain itu, momentum pasca Lebaran dapat dimanfaatkan untuk merapikan strategi investasi, termasuk menyesuaikan target imbal hasil dan toleransi risiko sesuai kondisi pasar terkini.
Dalam situasi pasar yang belum stabil, Hendra menyarankan investor tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar. Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih aman untuk meminimalkan risiko akibat fluktuasi harga.
“Hal yang sebaiknya dihindari adalah melakukan panic selling ketika pasar mengalami penurunan tajam,” katanya.
Menurut Hendra, strategi bertahap memungkinkan investor memanfaatkan peluang ketika harga berada di area support yang menarik tanpa menanggung risiko terlalu besar dalam satu waktu. Ia menambahkan, menjaga porsi kas dalam portofolio juga penting agar investor memiliki fleksibilitas merespons peluang maupun mengantisipasi potensi koreksi lanjutan.
Di tengah IHSG yang masih labil, Hendra menilai sebagian investor juga mulai melirik aset safe haven sebagai perlindungan nilai. Ia mengatakan meningkatnya risiko global—mulai dari konflik geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga yang belum pasti—mendorong pergeseran preferensi ke instrumen yang lebih defensif, termasuk emas.
“Dalam kondisi ketidakpastian global yang meningkat, investor global cenderung mengalihkan sebagian portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah,” kata Hendra, Senin (23/3/2026).
Ia menilai fase pasca Lebaran tahun ini berpotensi menjadi titik awal meningkatnya minat terhadap sektor emas, terutama jika ketidakpastian global belum mereda. Hendra menyebut meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga energi sebagai faktor yang mendorong permintaan emas.
“Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, sektor tambang emas justru mulai mendapatkan perhatian lebih besar dari investor,” ujarnya.
Di sisi lain, sektor tambang emas Indonesia disebut mulai mendapat perhatian lebih luas di tingkat internasional. Hendra menyoroti masuknya saham Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index sebagai katalis penting karena indeks tersebut menjadi acuan berbagai produk investasi global, termasuk ETF berbasis tambang emas.
“Hal ini terlihat dari masuknya saham tambang emas Indonesia seperti Archi Indonesia, Amanah Gold Resources, dan J Resources Asia Pasifik ke dalam MVIS Global Junior Gold Miners Index yang menjadi acuan berbagai produk investasi global,” katanya.
Menurut Hendra, peluang penguatan sektor emas pasca Lebaran masih cukup besar jika ketidakpastian global berlanjut. Ia menambahkan prospek sektor emas juga ditopang potensi ekspansi perusahaan tambang nasional melalui peningkatan produksi serta eksplorasi cadangan baru.
“Dari perspektif pasar modal, inklusi ini memberikan dua manfaat penting bagi sektor emas Indonesia. Pertama adalah meningkatnya visibilitas global terhadap perusahaan tambang emas nasional,” ujarnya.
“Manfaat kedua adalah potensi masuknya arus dana pasif atau passive inflow dari ETF dan fund global yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi,” tambah Hendra.