Ekonom dan pengamat ekonomi politik Jro Gde Sudibya menilai asumsi bahwa Amerika Serikat (AS) akan kalah perang melawan Iran merupakan prediksi yang berlebihan. Ia menyebut AS memiliki kemampuan persenjataan strategis yang besar, termasuk peluru kendali dengan hulu ledak nuklir yang diperkirakan mencapai belasan ribu.
Pernyataan tersebut disampaikan Jro Gde Sudibya pada Kamis, 5 Maret 2026. Ia juga menyinggung keberadaan hulu ledak nuklir yang menurutnya berada di kawasan sekitar, seperti Australia, Filipina, Korea Selatan, dan Jepang.
Dalam keterangannya, ia berharap otoritas penggunaan senjata tersebut tidak dipakai secara gegabah. “Semoga saja Trump tidak panik menggunakan otoritas ini, dan membuat dunia binasa,” katanya.
Menurut Jro Gde Sudibya, dampak perang terhadap ekonomi global, AS, dan Indonesia bisa sangat besar. Ia menilai kehancuran yang terjadi di kawasan negara-negara Teluk—Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Yordania—berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap perekonomian AS.
Ia menjelaskan, negara-negara tersebut memiliki investasi yang besar di pasar uang dan pasar modal AS, termasuk di sektor properti. Selain itu, ekspor AS ke kawasan itu disebut tinggi. “AS adalah lokomotif ekonomi dunia, pembeli terbesar dari pasar komoditas dan industri dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan, tekanan terhadap ekonomi AS dapat berdampak langsung pada postur ekonomi global. Sebagai contoh, ia menyebut ekspor Indonesia sangat bergantung pada pasar AS, di samping Singapura, China, dan Jepang.
Jro Gde Sudibya juga menyoroti Selat Hormuz yang disebutnya kini menjadi titik api. Menurutnya, sekitar 20% pasokan energi global dari negara-negara Teluk melewati selat tersebut yang merupakan wilayah Iran. Ia memperkirakan gangguan pasokan dapat mendorong kenaikan harga energi.
Ia menyebut China sangat bergantung pada pasokan energi melalui jalur itu. Sementara Indonesia, kata dia, bergantung sekitar 19% dari impor minyak, dengan kebutuhan sekitar 1,6 juta barel per hari.
Terkait dampaknya bagi Indonesia, Jro Gde Sudibya memperkirakan jika harga minyak naik menjadi 120 dolar AS per barel, sementara asumsi harga minyak dalam APBN 2026 berada di angka 70 dolar AS per barel, maka diperlukan tambahan dana subsidi pada 2026 sebesar Rp350 triliun. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat APBN 2026 terancam jebol.
Ia menilai pembiayaan tambahan subsidi melalui utang akan semakin sulit atau harus dilakukan dengan bunga yang lebih tinggi. Ia juga memperkirakan defisit pada 2026 bisa melampaui 3% dari PDB, serta menyebut adanya risiko politik bagi presiden.

