Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan sektor industri padat modal (capital intensive) mulai menunjukkan pertumbuhan yang lebih bergairah. Perkembangan ini dinilai menjadi upaya mengejar capaian investasi sektor alas kaki yang selama ini lebih didominasi industri padat karya.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah Sakina Rosellasari mengatakan, Jawa Tengah selama ini identik dengan ekosistem investasi industri alas kaki. Namun belakangan, sejumlah sektor dengan nilai investasi besar mulai melirik prospek industri di provinsi tersebut.
Menurut Sakina, realisasi investasi di sektor padat modal mulai terlihat signifikan, antara lain pada industri fiber optik, alat kesehatan, industri karet dan plastik, hingga baterai. Ia mencontohkan pembangunan pabrik anoda baterai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dengan nilai investasi Rp1,5 triliun. Selain itu, terdapat penanaman modal dari industri ban di Jatengland, Kabupaten Demak, senilai Rp1,08 triliun.
Menanggapi tren tersebut, Pemprov Jateng menyatakan akan memastikan pelayanan optimal bagi investasi padat modal yang berkontribusi pada peningkatan nilai investasi, sekaligus tetap mendorong sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dan menekan angka pengangguran.
“Kami menginginkan keduanya berjalan seiring. Sejumlah kawasan industri memang sudah dilirik sektor padat modal, namun sektor padat karya tetap kami harapkan, karena ekosistem industri alas kaki kuat di Jateng,” kata Sakina.
Ia juga menyampaikan kinerja penanaman modal Jawa Tengah pada 2025 tercatat impresif. Realisasi investasi mencapai Rp88,50 triliun atau 112,98 persen dari target Rp78,33 triliun.
Dari total tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp37,64 triliun, sedangkan penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp50,86 triliun. Realisasi itu mencakup 105.078 proyek dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 418.138 orang.
Lima sektor dengan realisasi investasi terbesar meliputi industri barang dari kulit dan alas kaki sebesar Rp11,37 triliun; industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam sebesar Rp9,70 triliun; industri karet dan plastik sebesar Rp8,96 triliun; industri tekstil sebesar Rp7,97 triliun; serta sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp7,47 triliun.
Sementara itu, lokasi favorit penanaman modal meliputi Kabupaten Kendal dengan realisasi Rp15,86 triliun, Kota Semarang Rp11,15 triliun, Kabupaten Demak Rp9,06 triliun, Kabupaten Batang Rp6,73 triliun, dan Kabupaten Semarang Rp4,38 triliun.

