BERITA TERKINI
THR Lebaran dan Tantangan Literasi Keuangan: Antara Konsumsi Musiman dan Peluang Memperkuat Finansial

THR Lebaran dan Tantangan Literasi Keuangan: Antara Konsumsi Musiman dan Peluang Memperkuat Finansial

Tunjangan Hari Raya (THR) kerap menjadi momen yang dinanti setiap tahun. Namun, dana musiman ini juga membawa dua kemungkinan: membantu memperkuat kondisi keuangan atau justru habis untuk konsumsi sesaat. Sejumlah data menunjukkan, kecenderungan masyarakat masih memandang THR sebagai “uang tambahan” yang cepat dibelanjakan, bukan sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka menengah.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia berada di angka 49,68 persen. Artinya, lebih dari separuh masyarakat dinilai belum memiliki pemahaman optimal dalam mengelola keuangan, termasuk memanfaatkan pendapatan tidak rutin seperti THR. Dalam konteks ini, fenomena THR yang habis dalam hitungan hari dipandang bukan semata persoalan individu, melainkan juga terkait tantangan literasi finansial yang lebih luas.

Dari sisi perilaku konsumsi, data Bank Indonesia menunjukkan periode Ramadan hingga Idulfitri secara konsisten diikuti lonjakan konsumsi rumah tangga. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan puncak aktivitas belanja kerap terjadi menjelang dan saat Lebaran. Kenaikan ini dipengaruhi belanja kebutuhan pokok, sandang, hingga gaya hidup, yang pada akhirnya membuat porsi THR banyak terserap untuk kebutuhan konsumtif.

Fenomena tersebut juga dapat dijelaskan melalui pendekatan ekonomi perilaku. Konsep mental accounting menggambarkan kecenderungan masyarakat memperlakukan uang berdasarkan sumbernya. THR kerap dipersepsikan sebagai “uang bonus”, sehingga secara psikologis lebih mudah dibelanjakan tanpa perencanaan yang matang. Riset global McKinsey & Company turut menekankan bahwa lonjakan konsumsi musiman sering dipicu faktor emosional dan tekanan sosial, bukan semata kebutuhan riil.

Dalam praktik pengelolaan keuangan, pendekatan berbasis tujuan atau goal-based budgeting yang direkomendasikan Financial Planning Standards Board disebut sebagai salah satu metode untuk mengelola pendapatan tidak rutin seperti THR. Skema pembagian yang proporsional—40 persen untuk kebutuhan Lebaran dan kewajiban sosial, 30 persen untuk tabungan dan dana darurat, 20 persen untuk investasi atau aset produktif, serta 10 persen untuk konsumsi fleksibel—dipandang dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan keberlanjutan finansial.

Di sisi investasi, data Bursa Efek Indonesia menunjukkan tren peningkatan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, momentum THR dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk membangun aset. Padahal, alokasi sebagian dana ke instrumen seperti reksa dana atau emas disebut berpotensi membantu menjaga nilai aset dibandingkan jika seluruh THR habis untuk konsumsi jangka pendek. Individu yang disiplin menempatkan sebagian THR pada aset produktif juga cenderung memiliki kondisi finansial yang lebih stabil setelah Lebaran.

Tekanan sosial turut menjadi faktor yang kerap mendorong pemborosan. Standar “Lebaran ideal” yang terbentuk di masyarakat—mulai dari tuntutan penampilan hingga konsumsi berlebih—dapat membuat seseorang berbelanja di luar kapasitas. Dalam perspektif ekonomi, gejala ini dikenal sebagai demonstration effect, ketika perilaku konsumsi dipengaruhi lingkungan sosial. Tanpa kontrol, keputusan finansial berisiko menjadi kurang rasional dan lebih dipicu dorongan emosional.

Pada akhirnya, pengelolaan THR mencerminkan pola pikir finansial. THR tidak hanya dipandang sebagai tambahan pendapatan, melainkan dapat menjadi momentum strategis untuk memperbaiki kondisi ekonomi pribadi. Besar kecilnya nominal bukan satu-satunya penentu, melainkan bagaimana dana tersebut direncanakan dan digunakan.

Lebaran tetap dapat dirayakan secara layak tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan. Di tengah arus konsumtif yang menguat setiap musim hari raya, peluang justru terbuka bagi mereka yang mampu mengelola THR secara lebih terarah—bukan semata untuk dibelanjakan, melainkan untuk diubah menjadi nilai yang bertahan setelah Lebaran usai.